Rumah Sakit: Sebuah Wisata Hati Untuk Belajar Bersyukur

Salafusshalih.com – Berwisata biasanya identik dengan mengunjungi tempat-tempat indah, seperti pantai, gunung, danau, laut, bahkan hamparan sawah dan hutan dengan udara yang sejuk. Begitulah sebagian orang memaknai liburan atau rekreasi.
Berwisata sering diartikan sebagai cara untuk menghilangkan rasa penat, jenuh, suntuk, bahkan bosan akibat aktivitas sehari-hari.
Dengan berwisata, seseorang dapat memperoleh kembali rasa bahagia, tenang, damai, serta semangat untuk menjalani aktivitas berikutnya.
Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengajak pembaca bertamasya ke tempat yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya, yaitu rumah sakit.
Berdasarkan pengalaman penulis dan para pembina rohani, rumah sakit menyimpan banyak cerita. Ada kisah bahagia, misalnya kelahiran seorang buah hati. Namun, ada pula kisah duka ketika melihat pasien dengan kondisi sakit parah yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya di ujung batas kehidupan.
Rumah sakit dapat menjadi tempat wisata yang murah, tetapi sangat berkesan, terutama bagi mereka yang hatinya mulai mengeras karena kurang bersyukur atas nikmat yang telah diberikan.
Mari berwisata ke ruang Intensive Care Unit (ICU). Di sana, kita akan menyaksikan pemandangan yang mengharukan. Pasien-pasien berjuang mati-matian mempertahankan nyawa dalam kondisi setengah sadar.
Mereka tampak begitu lemah dan bergantung pada berbagai alat medis, baik monitor canggih maupun selang-selang, hanya untuk dapat bertahan hidup. Setiap tarikan napas adalah perjuangan, dan setiap detak jantung merupakan anugerah yang terus diperjuangkan.
Ruang fisioterapi, di sini kita akan melihat para pejuang yang sedang berusaha kembali berjalan dan menggerakkan tangan secara normal. Wajah mereka tampak muram dan kehilangan keceriaan. Ada yang harus berjalan dengan bantuan tongkat, bahkan ada yang menggunakan kursi roda. Kisah-kisah ketabahan terpancar dari sorot mata mereka yang lelah, mengajarkan arti sejati tentang kekuatan dan harapan.
Menjelajahi Ruang Isolasi
Di sini, terbaring pasien-pasien dengan tangan yang dipenuhi selang infus. Mereka lebih banyak diam tanpa kata. Mesin oksigen membantu pernapasan mereka karena kondisi tubuh yang kekurangan oksigen.
Bahkan setelah sembuh, tidak jarang mereka masih harus menghadapi stigma buruk dari masyarakat. Sebagian dari mereka bergantung pada alat bantu tersebut secara rutin, seolah hidup mereka terikat pada jadwal yang ketat.
Masih belum puas? Mari singgah sejenak di ruang rawat inap. Di sini, kita akan menemukan beragam penyakit yang menjangkiti manusia, mulai dari penyakit kulit, gangguan pencernaan, diabetes, stroke, penyakit jantung, hingga korban kecelakaan dan berbagai penyakit lainnya.
Setiap kamar menyimpan cerita tentang perjuangan melawan rasa sakit dan ketidakpastian.
Pemberhentian Terakhir
Sebagai puncak dari wisata refleksi ini, mari kita melangkah ke kamar jenazah. Di sinilah perjalanan hidup fisik manusia berakhir. Kita akan melihat tubuh-tubuh yang terbaring kaku, tak bergerak, dan tak lagi bernapas.
Di tempat ini, semua perbedaan status sosial, kekayaan, dan jabatan lenyap. Yang tersisa hanyalah jasad yang menunggu untuk dikebumikan.
Pemandangan tersebut menjadi pengingat yang sangat jelas bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Kesempatan untuk berbuat baik tidak akan datang selamanya. Melihat mereka yang telah tiada, kita diingatkan betapa berharganya setiap detik napas yang masih Allah berikan kepada kita.
Refleksi Diri
Bagaimana dengan diri kita yang hidup nyaman di rumah? Kita masih dapat bergerak bebas tanpa bantuan alat mekanis apa pun. Bukankah itu sebuah kenikmatan?
Kita dapat bernapas dengan bebas di alam terbuka tanpa bantuan tabung oksigen. Bukankah itu nikmat?
Kita dapat makan dan minum dengan leluasa tanpa infus atau selang makanan yang menempel di tubuh. Bukankah itu anugerah?
Kita dapat pergi ke kamar mandi dan menunaikan kebutuhan pribadi tanpa bantuan orang lain. Bukankah itu kemudahan yang luar biasa?
Sudahkah Kita Bersyukur Hari Ini?
Setelah mengikuti “wisata hati” ini, sudahkah kita bersyukur hari ini dengan melaksanakan perintah-Nya?
Mari, selepas berwisata ini, kita berusaha untuk, pertama taat beribadah dan berdoa serta menjadikannya sebagai benteng spiritual dalam kehidupan.
Kerdua, saling mencintai, menyayangi, hidup rukun, dan menjaga kedamaian demi terciptanya keharmonisan bersama.
Ketiga, belajar mengalah demi meraih kemuliaan dan kebaikan bersama. Keempat, senantiasa bersyukur atas segala pemberian-Nya karena setiap nikmat adalah anugerah yang tak ternilai.
Kelima, tetap berbuat baik meskipun tidak selalu dihargai, karena kebaikan pada akhirnya akan kembali kepada diri kita sendiri.
Kelima, berbuat benar dan bermanfaat selagi kita masih diberi kesempatan untuk bernapas oleh-Nya.
Semoga “wisata hati” ini menjadikan kita pribadi yang lebih bersyukur, lebih peduli kepada sesama, dan lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.
(Muhammad Fitriani)



