Asma binti Abu Bakar: Pemasok Makanan Nabi di Gua Tsur

Salafusshalih.com – Asma binti Abu Bakar punya sebutan dzatun nithaqain. Artinya pemilik dua ikat pinggang. Julukan ini ada sejarahnya.
Dialah pengirim bekal makanan untuk Rasulullah dan Abu Bakar sewaktu sembunyi di Gua Tsur selama tiga hari menjelang hijrah. Bungkusan makanan itu dia ikat dengan sabuk kain bajunya setelah dirobek menjadi dua.
Melihat sabuk kainnya yang direlakan untuk mengikat bekal makanan itu Nabi Muhammad berkata,”Allah akan mengganti ikat pinggangmu dengan dua ikat pinggang di surga.”
Asma adalah kakak Aisyah, istri Nabi Muhammad. Umurnya mencapai 97 tahun. Suaminya Zubair bin Awwam. Dia juga meriwayatkan sejumlah hadis. Dikenal pemberani, sabar dan cerdas, juga menguasai ilmu pengobatan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw sebagaimana hadis ini.
إِنَّ الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَنَهَمَ فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ
“Sesungguhnya demam itu berasal dari hembusan panas neraka Jahannam, maka dinginkanlah ia dengan air. (Sahih Bukhari )
Hadis ini juga menjadi petunjuk medis di masa awal Islam untuk menurunkan suhu tubuh, Nabi Saw menyarankan untuk mendinginkannya dengan air, seperti kompres.
Menilik peran Asma mengirim bekal makanan saat hijrah, maka ada hikmah yang dipetik. Pentingnya manajemen logistik dalam kondisi krisis seperti yang dijalankan oleh Asma binti Abu Bakar.
Pertama, Logistik dan Strategi Perbekalan
Sejarah menceritakan sikap keberanian dan kecerdasan Asma. Ia masuk deretan perempuan pertama masuk Islam pada masa Nabi Saw. Keberaniannya mengantar makanan untuk ayah dan Rasulullah sebuah riwayat dari Hisyam bin Urwah bin Zubair bin Awwam dan Fatimah binti Al-Mundzir dari Asma, ia bercerita,”Saya saat itu membuat bekal makanan di kediaman ayahku untuk perbekalan hijrahnya Nabi Saw dan Abu Bakar. Namun saat hendak berangkat hijrah, saya tidak mendapati sesuatu yang bisa digunakan untuk mengikat bekal makanan dan tempat minum. Saya pun berkata pada ayahku,”Aku tidak mendapatkan sesuatu pun kecuali ikat pinggangku.” Ayahku menyahut,”Sobeklah ikat pinggangmu menjadi dua, lalu gunakanlah keduanya sebagai tali.” Oleh karenanya Asma binti Abu Bakar diberi julukan dzatun nithaqain (wanita pemilik dua ikat pinggang).
Dijelaskan dari riwayat lain, bahwa Asma binti Abu Bakar bertugas menyiapkan bekal dan mengantarkan makanan itu ke Gua Tsur di pinggiran kota. Ia menempuh perjalanan dengan hati-hati supaya tidak ketahuan orang Makkah.
Diriwayatkan dalam Sirah Ibnu Ishak: Asma berkata,”Abu Jahal sebagai pimpinan kafir Quraisy datang bersama sekelompok orang ke rumah Abu Bakar. Lalu Asma keluar menemui mereka para tokoh kafir Quraisy. Di antara mereka bertanya,”Di mana ayahmu wahai Asma?” Tanpa takut dan ragu Asma menjawab,”Demi Allah saya tidak tahu di mana ayahku. ”
Lalu Abu Jahal menjulurkan tangannya menampar pipiku, hingga anting-antingku terjatuh. Lalu mereka pun pergi.
Kedua, Manajemen Krisis (Menjaga Kerahasiaan dan Menghadapi Tekanan)
Asma mampu menjaga rahasia keberadaan Rasulullah dan Abu Bakar saat hijrah ketika berhadapan dengan musuh. Mengedepankan keselamatan Nabi Saw dan ayahnya saat menjalankan tugas. Dia memastikan suplai logistik sampai ke tempat tujuan Gua Tsur dengan aman.
Saat Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur, Asma dan kakaknya, Abdrurahman, memberi laporan situasi kota Makkah. Bersaudaa ini punya kekuatan sabar dan iman menghadapi tekanan orang-orang kafir Quraisy.
Diriwayatkan dari Ibnu Zubair,”Allah Ta’ala memuji Asma binti Abu Bakar atas sikapnya yang tidak pernah goyah atas bujuk rayu ibunya yang bernama Qutailah (wanita musyrik) agar Asma mau menerima hadiah ibunya supaya dia meninggalkan Islam.
Atas peristiwa ini Allah Ta’ala menurunkan surah Al-Muntahanah ayat 8.
لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
Riwayat lain dari Asma binti Abu Bakar menceritakan,”Ibuku mendatangiku saat ia masih musyrik. Maka aku bertanya kepada Rasulullah mengenai perkara ini. ”Ibuku datang kepadaku dengan membawa hadiah agar aku mau menerimanya dan kembali kepada kesyirikan, namun aku menolak pemberiannya. Lalu aku bertanya kepada Nabi Saw,”Apakah aku harus menjaga hubungan baik dengan ibuku?” Maka Nabi menjawab:”Ya, jagalah hubungan baik dengan ibumu.” ( Sahih Bukhari )
Asma mencintai Allah dan RasulNya melebihi cintanya kepada ibunya. Meskipun ibunya orang paling dekat dengannya namun Asma tetap memegang rahasia keberadaan tempat persembunyiaan Nabi Saw dan Abu Bakar.
Kesimpulan
Kisah Asma binti Abu Bakar saat peristiwa Hijrah mengajarkan kita tentang pentingnya manajemen risiko, keberanian, dan kesiapan logistik dalam menghadapi krisis dan situasi darurat.
Peran Asma yang memastikan suplai makanan tetap sampai dengan aman bagi Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar yang bersembunyi di Gua Tsur. Ia dengan cerdik merobek ikat pinggangnya menjadi dua bagian untuk mengikat makanan dan air.
Tindakan Asma mengajarkan kepada kaum muslimin di tengah krisis yaitu pentingnya inovasi dan memanfaatkan sumber daya yang ada saat menghadapi kendala logistik.
Dalam manajemen modern, menjaga informasi adalah kunci keberhasilan strategi. Asma mampu menjaga rahasia persembunyian Nabi dari kejaran musuh. Bahkan saat ia diinterogasi dan mendapat kekerasan dari Abu Jahal. Wallaahu ‘alamu bishshawwab.
(Ridwan Ma’ruf)



