Aswaja di Geopolitik Timur Tengah

Salafusshalih.com – Konstelasi Timur Tengah saat ini memperlihatkan sedikitnya tiga poros utama. Pertama, poros Syiah yang dipimpin Iran dengan jaringan sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan berbagai milisi di Irak. Kedua, poros Arab Saudi yang secara historis menjadi pusat penyebaran Salafi/Wahabi, meskipun orientasi geopolitiknya kini semakin pragmatis. Ketiga, poros Aswaja yang tidak tampil sebagai aliansi politik maupun militer, tetapi hidup dalam jaringan ulama, lembaga pendidikan, dan tradisi keilmuan yang mengakar.
Mesir menjadi salah satu pilar utama poros Aswaja melalui Al-Azhar yang selama berabad-abad menjadi pusat pendidikan Islam dunia. Dari sana lahir jaringan ulama Asy’ariyah, Maturidiyah, fikih empat mazhab, dan tasawuf yang menjangkau Afrika, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara. Pengaruh Al-Azhar dibangun melalui pendidikan, fatwa, dan diplomasi keagamaan, bukan melalui kekuatan militer.
Yordania mengambil posisi sebagai pelopor diplomasi Aswaja melalui Amman Message yang menegaskan pengakuan terhadap mazhab-mazhab Islam yang sah dan menolak praktik takfir. Palestina juga merupakan masyarakat Sunni yang mayoritas bertradisi Aswaja. Namun, dalam konteks perjuangan melawan pendudukan Israel, identitas mazhab sering kali berada di bawah kepentingan nasional Palestina sehingga dukungan dapat datang dari berbagai poros.
Suriah secara historis merupakan pusat keilmuan Aswaja dengan tradisi ulama, madrasah, dan tasawuf yang kuat. Namun perang saudara telah memecah jaringan tersebut. Konflik yang melibatkan rezim, oposisi, kelompok jihadis, Iran, Turki, Rusia, Amerika Serikat, dan Israel membuat komunitas Aswaja tradisional kehilangan ruang kepemimpinan dan lebih banyak menjadi korban daripada aktor utama geopolitik.
Irak menjadi arena perebutan pengaruh antara Iran, negara-negara Arab, Turki, dan Amerika Serikat. Setelah 2003, dominasi politik bergeser kepada elite Syiah sehingga pengaruh Iran meningkat tajam. Di Lebanon, menguatnya Hizbullah menjadikan poros Syiah semakin dominan, sementara komunitas Sunni Aswaja lebih banyak berperan sebagai penyeimbang. Sebaliknya, Turki mempertahankan tradisi Hanafi-Maturidi warisan Kesultanan Utsmaniyah dan membangun geopolitik yang independen melalui diplomasi kebudayaan, pendidikan, dan bantuan kemanusiaan.
Peta tersebut menunjukkan bahwa Aswaja memiliki sebaran geografis yang luas, mulai dari Mesir, Yordania, Palestina, Suriah, Turki, Irak, dan Lebanon. Akan tetapi, berbeda dengan Iran yang memiliki kepemimpinan politik yang relatif terpusat atau Arab Saudi yang memiliki legitimasi sebagai penjaga dua tanah suci, dunia Aswaja belum mempunyai simpul global yang mampu menghubungkan seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan geopolitik yang terorganisasi.
Analisis ini dapat dijelaskan melalui perspektif International Society dari Hedley Bull. Dalam The Anarchical Society (1977), Bull menjelaskan bahwa sekalipun sistem internasional berada dalam kondisi anarki, negara-negara dan aktor non-negara tetap membentuk suatu masyarakat internasional (international society) yang diikat oleh norma, institusi, nilai, dan kepentingan bersama. Dengan demikian, pengaruh dalam politik internasional ditentukan juga oleh kemampuan membangun norma, legitimasi, dan institusi yang diakui secara luas.
Dalam kerangka tersebut, jaringan Aswaja dapat dipahami sebagai masyarakat internasional keagamaan yang melampaui batas-batas negara. Ikatan Asy’ariyah, Maturidiyah, mazhab fikih, tradisi pesantren, dan tasawuf membentuk norma bersama yang menghubungkan Mesir, Yordania, Palestina, Suriah, Turki, Irak, dan Lebanon. Persoalannya, jaringan tersebut belum memiliki simpul yang mampu mengintegrasikan komunikasi, kolaborasi, dan diplomasi antaraktor Aswaja secara efektif.
Di sinilah Nahdlatul Ulama memiliki peluang strategis. Sebagai organisasi Islam terbesar dengan basis pesantren yang kuat, tradisi Asy’ariyah-Maturidiyah, fikih mazhab, dan tasawuf, NU memiliki kedekatan intelektual dengan berbagai pusat Aswaja di Timur Tengah. Selain itu, Indonesia tidak terjebak dalam rivalitas geopolitik Iran-Saudi sehingga memiliki posisi yang relatif netral untuk membangun diplomasi keagamaan lintas kawasan.
Dalam perspektif Hedley Bull, NU dapat berkembang sebagai Aswaja Network Hub, yaitu simpul strategis yang menghubungkan ulama, pesantren, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, dan lembaga-lembaga Aswaja lintas negara dalam satu jejaring global. Peran tersebut bukanlah membangun hegemoni politik, melainkan memproduksi pengetahuan, memperkuat norma bersama, memfasilitasi dialog intra-Sunni maupun lintas mazhab, serta mengembangkan diplomasi keagamaan sebagai fondasi masyarakat internasional Aswaja.
Karena itu, masa depan geopolitik Aswaja mungkin tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat secara militer, tetapi oleh siapa yang mampu menjadi penghubung jaringan keilmuan, diplomasi, dan peradaban Islam. Jika mampu mengonsolidasikan modal sosial, intelektual, dan diplomatik yang dimilikinya, Nahdlatul Ulama berpeluang menjadi Aswaja Network Hub dunia bukan sebagai pusat kekuasaan dunia Sunni, melainkan sebagai pusat konektivitas, kolaborasi, dan diplomasi peradaban Islam yang berkontribusi pada stabilitas Timur Tengah dan perdamaian global.
(Ayik Heriansyah)



