Al Qur'an

Tafsir Al Maidah Ayat 17–18, Ketika Makhluk Dijadikan Tuhan

Salafusshalih.com – Setelah Surah Al-Maidah ayat 14 berbicara tentang sebagian pesan Tuhan yang dilupakan, kemudian ayat 15–16 menjelaskan datangnya Rasul membawa penjelasan, cahaya, dan kitab yang menerangi manusia menuju jalan yang lurus, ayat 17–18 membawa kita kepada persoalan yang jauh lebih mendasar.

Persoalan itu bukan lagi sekadar apakah manusia menerima wahyu atau tidak, tetapi bagaimana manusia mengenali Tuhan dan menempatkan makhluk di hadapan-Nya.

Sebab kesalahan manusia dalam memahami Tuhan pada akhirnya akan menentukan bagaimana ia memahami dirinya sendiri, memahami alam, bahkan memahami seluruh kehidupan.

Allah Swt. berfirman,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

“Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putra Maryam.’ Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam, ibunya, dan seluruh manusia yang ada di bumi?’ Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Ayat ini berbicara sangat tegas tentang sebuah persoalan akidah. Allah menyebut klaim bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam sebagai sebuah kekufuran. Al-Qur’an tidak sedang merendahkan Al-Masih.

Justru sebaliknya, Al-Qur’an berkali-kali menempatkan Isa putra Maryam sebagai sosok yang mulia, seorang rasul dan tanda kekuasaan Allah. Persoalannya adalah ketika seorang makhluk ditempatkan pada posisi yang merupakan kekhususan Allah. Di sinilah persoalan tauhid menjadi sangat mendasar: bukan sekadar mengakui adanya Tuhan, tetapi mengetahui siapa Tuhan dan siapa makhluk.

Ketika Makhluk Ditempatkan Terlalu Tinggi

Al-Qur’an kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat kuat:

فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Siapakah yang memiliki kuasa untuk menghalangi Allah?”

Pertanyaan ini membawa manusia kepada ukuran yang sederhana tetapi mendasar. Jika Al-Masih adalah Allah dalam pengertian ketuhanan yang mutlak, maka bagaimana mungkin Allah menguasai atau membinasakan Al-Masih dan ibunya?

Jika Allah memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu, maka tidak mungkin ada makhluk yang berdiri sejajar dengan-Nya sebagai Tuhan. Tafsir al-Ṭabari juga menjadikan kemampuan Allah untuk menguasai dan membinasakan Al-Masih dan ibunya sebagai argumentasi bahwa keduanya adalah makhluk, bukan Tuhan.

Perhatikan bahwa Al-Qur’an tidak berhenti dengan mengatakan bahwa klaim tersebut salah. Al-Qur’an kemudian mengajak manusia melihat realitas yang lebih luas:

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا

“Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya.”

Artinya, persoalan ketuhanan tidak dapat dipisahkan dari cara manusia memandang seluruh wujud. Jika Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi, maka seluruh yang ada di dalamnya berada pada posisi sebagai makhluk dan milik-Nya.

Di sini terdapat kata مُلْكٌ (mulk) yang sangat penting. Mulk bukan sekadar kepemilikan dalam pengertian manusia memiliki sebuah benda. Ketika Al-Qur’an mengatakan bahwa milik Allah kerajaan langit dan bumi, yang sedang ditegaskan adalah kekuasaan dan kepemilikan Allah yang menyeluruh atas seluruh wujud.

Tidak ada satu bagian dari alam semesta yang berada di luar kerajaan-Nya. Tidak ada makhluk yang memiliki kemandirian mutlak dari-Nya. Bahkan kehidupan dan kematian manusia sendiri berada di bawah kekuasaan-Nya.

Pencipta Tetap Pencipta, Makhluk Tetap Makhluk

Karena itu ayat tersebut melanjutkan,

يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ

“Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki.”

Allah adalah Khalik, sedangkan selain-Nya adalah makhluk. Perbedaan antara Khalik dan makhluk bukan perbedaan derajat biasa yang memungkinkan makhluk pada akhirnya menjadi Tuhan. Keduanya berbeda secara mendasar.

Makhluk menerima keberadaan, sedangkan Allah adalah Pencipta keberadaan. Makhluk bergantung, sedangkan Allah tidak bergantung kepada makhluk.

Di sinilah Al-Qur’an memberikan fondasi bagi cara berpikir tauhidik. Ketika manusia gagal membedakan antara Pencipta dan ciptaan, maka batas-batas epistemologisnya ikut rusak.

Ia bisa mengagungkan makhluk secara berlebihan, mengangkat manusia kepada posisi yang seharusnya hanya milik Tuhan, atau menjadikan sesuatu yang terbatas sebagai pusat kehidupan. Tauhid bukan hanya persoalan mengucapkan bahwa Allah itu satu. Tauhid juga merupakan cara menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Ayat 17 kemudian ditutup dengan kalimat yang sangat tegas:

وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Ini seperti mengembalikan seluruh pembicaraan kepada sumber persoalannya. Allah memiliki kerajaan karena Dia adalah Pencipta. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki karena kekuasaan-Nya sempurna.

Tidak ada makhluk yang mampu membatasi kehendak-Nya. Tafsir Ibn Kathir juga menekankan bahwa seluruh makhluk berada di bawah kekuasaan dan kepemilikan Allah, sedangkan Al-Masih dan ibunya adalah bagian dari ciptaan-Nya.

Merasa Istimewa di Hadapan Allah

Setelah itu, ayat 18 melanjutkan pembicaraan dengan klaim lain yang tidak kalah menarik. Allah berfirman,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ.

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, ‘Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’ Katakanlah, ‘Mengapa Dia menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ Bahkan kamu adalah manusia di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nya semua akan kembali.”

Ayat ini menarik karena setelah manusia mengangkat seorang makhluk kepada posisi ketuhanan, muncul bentuk lain dari persoalan yang sama: manusia memberikan kepada dirinya sendiri kedudukan khusus di hadapan Allah. Mereka berkata,

نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ

“Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Terlepas dari bagaimana ungkapan tersebut dipahami dalam konteks tradisi masing-masing, Al-Qur’an langsung mengoreksi cara berpikir yang menjadikan klaim kedekatan dengan Allah sebagai jaminan bebas dari pertanggungjawaban.

Jawaban Al-Qur’an sangat sederhana tetapi mengguncang:

فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ

“Lalu mengapa Dia menyiksa kamu karena dosa-dosamu?”

Jika seseorang merasa memiliki status istimewa di hadapan Allah yang membuatnya kebal dari konsekuensi dosa, Al-Qur’an justru meminta bukti dari realitas kehidupan. Status yang diklaim tidak otomatis menghapus tanggung jawab moral.

Manusia Tetaplah Manusia

Kemudian datang kalimat yang sangat penting:

بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ

“Bahkan kalian adalah manusia di antara makhluk yang Dia ciptakan.”

Kata بَلْ (bal) di sini menghadirkan koreksi. Seolah-olah Al-Qur’an mengatakan: jangan membangun identitas spiritual yang membuat kalian keluar dari posisi sebagai makhluk. Kalian adalah بَشَر, manusia. Kalian diciptakan. Kalian hidup di bawah kekuasaan Allah. Kalian memiliki dosa dan membutuhkan ampunan. Kalian tidak memiliki hak istimewa yang membuat kalian terbebas dari hukum moral Allah.

Di sinilah kita menemukan pelajaran yang sangat penting tentang tauhid. Kesalahan manusia terhadap Tuhan ternyata dapat mengambil dua arah. Pertama, manusia mengangkat makhluk menjadi terlalu tinggi hingga ditempatkan pada posisi yang semestinya hanya milik Allah.

Kedua, manusia mengangkat dirinya sendiri terlalu tinggi hingga merasa memiliki hubungan khusus dengan Allah yang membuatnya tidak lagi tunduk pada pertanggungjawaban. Keduanya sama-sama berangkat dari kegagalan menempatkan manusia sebagai manusia dan Allah sebagai Allah.

Menariknya, ayat 18 kemudian kembali mengulang kalimat yang terdapat pada ayat 17:

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا

“Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.”

Pengulangan ini bukan sekadar pengulangan informasi. Ia seperti penegasan bahwa setelah manusia berbicara tentang siapa yang dianggap Tuhan, siapa yang dianggap anak-anak Allah, siapa yang dianggap kekasih Allah, Al-Qur’an mengembalikan semuanya kepada satu kenyataan: milik Allah-lah seluruh kerajaan.

Manusia boleh memiliki kemuliaan, tetapi ia tetap makhluk. Para nabi boleh memiliki kedudukan yang sangat tinggi, tetapi mereka tetap hamba Allah. Orang saleh boleh memiliki kedekatan spiritual, tetapi ia tetap berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah.

Tidak ada manusia yang berubah menjadi Tuhan, dan tidak ada manusia yang memiliki kekebalan dari pertanggungjawaban hanya karena identitas kelompok atau klaim kedekatan spiritual.

Semua Akan Kembali Kepada Allah

Ayat 18 kemudian ditutup dengan

وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Dan kepada-Nya semua akan kembali.”

Kalimat ini membawa pembahasan dari persoalan identitas menuju persoalan akhir kehidupan. Semua kembali kepada Allah. Karena itu, manusia tidak cukup bertanya, “Siapa saya hari ini?”

Ia juga harus bertanya, “Kepada siapa saya akan kembali?” Identitas yang dibanggakan di dunia tidak akan menghapus kenyataan bahwa setiap manusia akan berdiri di hadapan Allah.

Di sinilah hubungan ayat 17 dan 18 menjadi sangat kuat. Ayat 17 meluruskan kesalahan ketika manusia mengangkat Al-Masih ke posisi ketuhanan. Ayat 18 meluruskan kesalahan ketika manusia mengangkat dirinya sendiri ke posisi yang seolah-olah membuatnya memiliki hak istimewa di hadapan Allah. Keduanya kemudian dipertemukan oleh satu prinsip:

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allah adalah pemilik kerajaan. Manusia adalah makhluk. Dan kepada Allah seluruh makhluk akan kembali.

Pesan ini sebenarnya sangat relevan untuk kehidupan manusia sepanjang zaman. Kita mungkin tidak mengatakan bahwa seseorang adalah Tuhan, tetapi kita dapat menempatkan manusia, kekuasaan, ilmu, harta, kelompok, tokoh, atau bahkan diri sendiri pada posisi yang terlalu tinggi. Ketika sesuatu yang sebenarnya makhluk mulai diperlakukan seolah-olah memiliki otoritas mutlak, di situlah manusia sedang kehilangan keseimbangan tauhidiknya.

Tauhid kemudian bukan hanya persoalan tentang bagaimana kita menyebut nama Allah. Tauhid adalah bagaimana kita menempatkan Allah sebagai pusat tertinggi dan menempatkan seluruh makhluk sesuai dengan kedudukannya. Nabi tetap nabi. Ulama tetap manusia. Kekuasaan tetap amanah. Ilmu tetap alat untuk mengenal kebenaran. Harta tetap titipan. Dan diri kita sendiri tetap seorang hamba.

Maka setelah ayat 14 berbicara tentang lupa terhadap sebagian pesan Tuhan, ayat 15–16 tentang datangnya Rasul, cahaya, dan jalan petunjuk, ayat 17–18 membawa kita kepada pertanyaan paling mendasar: ketika cahaya wahyu telah datang, siapa sebenarnya Tuhan yang sedang kita sembah, dan siapa sebenarnya diri kita di hadapan-Nya? Sebab kesalahan terbesar manusia bukan hanya ketika ia tidak mengetahui jalan, tetapi ketika ia salah menempatkan siapa yang menjadi tujuan akhir dari perjalanan itu.

Allah adalah Pemilik langit dan bumi. Allah adalah Pencipta. Allah Mahakuasa. Manusia adalah makhluk. Dan seluruh perjalanan manusia, pada akhirnya, akan kembali kepada-Nya.

وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Dan kepada-Nya semua akan kembali.”

(Muhammad Hidayatulloh)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button