Jabal Rahmah: Bukit yang Mengajarkan Cinta dan Kepulangan

Salafusshalih.com – Dalam perjalanan spiritual, langkah kaki saya berhenti di sebuah bukit yang tak pernah benar-benar sunyi: Jabal Rahmah.
Siang itu, matahari Makkah berdiri tegak—seolah ingin menjadi saksi bahwa cinta selalu menemukan jalannya, meski harus melewati ribuan tahun penantian. Terik terasa menekan, tetapi justru di sanalah hati dilonggarkan, diberi ruang untuk merenung.
Menapaki Jabal Rahmah di siang hari bukan perkara mudah. Tangga-tangga batu dipenuhi manusia dari berbagai ras, bahasa, dan warna kulit. Napas terengah, wajah berkeringat, tetapi mata mereka berbinar. Seolah ada magnet tak kasatmata yang menarik langkah ke atas—magnet bernama cinta. Cinta yang memanggil, bukan memaksa.
Jabal Rahmah membentang dari pegunungan As-Sa‘ad menuju jantung tanah wukuf Arafah, di pinggiran timur Makkah. Ia bukan sekadar bukit; ia adalah lembaran sejarah yang ditulis dengan air mata, doa, dan pengharapan.
Arafah bukan tanah biasa. Ia adalah bukti cinta yang diuji: tempat bertemu dan berpisah, ruang taubat yang terbuka selebar langit, dan panggung di mana Islam disempurnakan. Di sinilah cinta tidak sekadar diucapkan, tetapi dibuktikan dengan penyerahan diri sepenuh jiwa.
Di Jabal Rahmah inilah Nabi Adam dan Hawa dipertemukan kembali setelah 300 tahun terpisah. Adam diturunkan di India, Hawa di Irak. Jarak bumi dan waktu memisahkan mereka, tetapi doa menyatukan kembali. Karena taubat nasuha yang mengalir dari hati paling dalam, Allah mempertemukan keduanya di tempat ini.
Bayangkan haru itu—dua jiwa yang lama merindu akhirnya saling menemukan. Bukan semata oleh kekuatan cinta, melainkan oleh cinta yang kembali kepada Allah. Bukankah Jalaluddin Rumi pernah berbisik, “Di mana ada luka, di sanalah cahaya masuk ke dalam dirimu.”
Di Tanah Arafah pula, Abu Bakar Ra. dan Umar bin Khattab Ra. menangis tanpa henti. Tangis itu bukan tangis duka, melainkan tangis cinta. Saat Rasulullah Saw. menyampaikan Khutbah Wada’, mengabarkan kesempurnaan agama Islam sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 3, banyak sahabat bersuka cita.
Namun dua insan ini justru diliputi kesedihan. Mereka memahami bahasa cinta lebih dalam: kesempurnaan berarti perpisahan semakin dekat. Mereka tahu, kekasih mereka akan segera kembali kepada Sang Kekasih sejati.
Arafah juga menyimpan kisah cinta yang lebih tajam dari pedang dan lebih berat dari gunung: cinta Nabi Ibrahim As. kepada Allah Swt. Di tanah inilah seorang ayah diuji untuk menyembelih putra yang paling ia cintai—Nabi Ismail As, anak yang lahir dari penantian panjang, penerus doa dan harapan.
Tiga kali mimpi yang sama datang, dan Ibrahim tidak berpaling. Ia memilih taat, sebab cintanya kepada Allah melampaui segalanya. Cinta sejati, kata Rumi, adalah ketika engkau rela kehilangan segalanya demi Dia yang tak pernah kehilanganmu.
Namun Allah Maha Pengasih. Pengorbanan itu cukup sampai pada niat dan ketundukan. Ismail digantikan dengan hewan kurban. Cinta Ibrahim diuji bukan untuk disakiti, melainkan untuk dimurnikan.
Di Jabal Rahmah, saya belajar: cinta kepada Allah tidak selalu tentang kebahagiaan. Ia tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian melepaskan. Dan siapa pun yang mencintai Allah dengan sungguh-sungguh, akan selalu menemukan jalan pulang—meski harus menapaki tangga berbatu di bawah terik matahari.
(M. Khoirul Anam)



