Serakahnomics dan Jejak Lawrence: Saat Dunia Islam Dipecah dari Dalam
Salafusshalih.com – Lebih dari seabad setelah Lawrence of Arabia menanam strategi pecah belah di jantung dunia Islam, pola yang sama kini hadir dalam wujud baru: ekonomi rakus, politik rente, dan ideologi global yang menindas.
Sumber masalahnya berakar sejak masa runtuhnya Kekhilafahan Usmaniyah, ketika dunia Islam yang semula merupakan satu tubuh besar mulai digoyang dari dalam. Di ambang keruntuhan itu, muncul Thomas Edward Lawrence (1888–1935), perwira militer sekaligus diplomat Inggris yang dikenal dengan sebutan Lawrence of Arabia.
Ia tampak begitu mengagumi budaya Arab, meninggalkan kemewahan London dan hidup di padang pasir, seolah menjelma sahabat sejati bangsa Arab. Namun di balik “romantisme budaya” itu tersembunyi agenda besar: memecah kekuatan Islam dari dalam, menciptakan perpecahan yang kelak diwariskan hingga abad modern.
Lawrence datang bukan sekadar mempelajari bangsa Arab, melainkan memahami cara paling efektif untuk memecahnya. Ia memiliki peran penting dalam Revolusi Arab 1916, ketika Syarif Hussein, Gubernur Hijaz, memberontak kepada Kekaisaran Ottoman. (Sumber: National Geographic)
Sejak saat itu, strategi divide et impera (pecah belah dan kuasai) menjadi warisan panjang yang terus hidup dalam berbagai bentuk — dari kolonialisme klasik hingga dominasi modern yang lebih halus: lewat ekonomi, politik, dan ideologi.
Anak-Anak Lawrence dan Politik Pecah-Belah Berlapis
Setelah Lawrence, muncul “anak-anak ideologisnya”: para penulis, analis, dan diplomat yang tampak memuliakan budaya Timur, tetapi sejatinya ingin memisahkan satu kelompok dari yang lain.
Pertama, mereka menyanjung bangsa Kurdi agar memisahkan diri dari bangsa Arab, seperti dilakukan oleh Mordechai Zaken (penasihat PM Israel untuk urusan Arab dan minoritas).
“Cintaku yang sejati adalah kepada budaya Kurdi, yang harus meraih kemerdekaan dari bangsa Arab,” katanya, seraya menekankan betapa indahnya warna bendera Kurdi.
Kemudian, dari dalam komunitas Kurdi sendiri, mereka menumbuhkan ide tentang kemerdekaan kelompok Druze, seperti dilakukan oleh Avichay Adraee (juru bicara IDF dan kepala divisi media Arab).
“Hatiku tertarik pada kaum Druze, dan kemerdekaan mereka dari entitas Kurdi adalah kewajiban moral,” ujarnya.
Yang paling menarik baginya adalah kumis panjang orang-orang Druze. Dan begitu seterusnya — setiap entitas yang muncul akan dipecah kembali menjadi entitas yang lebih kecil.
Inilah politik pecah belah berlapis: strategi yang mengubah wilayah yang dahulu satu menjadi mosaik konflik tanpa akhir. Timur Tengah yang dulunya makmur dan berdaulat kini perlahan hancur, menjadi wilayah lemah yang mudah dikendalikan kekuatan global.
Pecah-Belah Dalam Tubuh Umat Islam
Ironisnya, strategi ini kini berjalan tanpa perlu agen asing. Umat Islam sendiri sering terjebak dalam pertikaian internal: Sunni–Syiah, Salafi–Sufi, Asy‘ari–Atsari, bermazhab fikih–tak bermazhab, tradisionalis–modernis, demokratis–khilafahis, dan seterusnya.
Dalam sebuah video, dai Salafi Dr. Abdul Aziz Ar-Rayyis menyebut adanya agen Yahudi yang menyusup ke barisan kaum Muslimin, menjadi periset hadis, bahkan menampakkan diri sebagai “Salafi”.
Di Israel sendiri ada kajian tentang ilmu-ilmu syar‘i, termasuk ilmu hadis, dan sebagian dari mereka bahkan mencapai derajat profesor di bidang tersebut. (YouTube | Transkrip Lengkap)
Perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat berubah menjadi alat politik untuk memecah barisan. Media sosial memperparah keadaan: setiap kelompok menciptakan narasi sendiri, menuduh yang lain sesat, dan merasa paling benar. Padahal di atas semua perbedaan itu, musuh bersama justru sedang menonton sambil memperkuat pengaruhnya.
Al-Qur’an memberi peringatan keras: “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, serta janganlah kamu berselisih yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.” (Al-Anfal: 46)
Ayat ini bukan sekadar seruan moral, tetapi juga strategi geopolitik ilahi. Umat yang berselisih akan kehilangan daya tahan, kehilangan arah, dan akhirnya menjadi objek dari agenda luar serta sapi perah asing.
Kolonialisme Gaya Baru dan Serakahnomics
Jika dulu penjajahan dilakukan dengan senjata, kini ia datang melalui sistem ekonomi.
Globalisasi yang tidak adil melahirkan apa yang disebut sebagai serakahnomics — ekonomi keserakahan, di mana segelintir elite global menguasai sumber daya umat manusia. Dunia Islam yang kaya energi, tambang, dan pangan menjadi sasaran eksploitasi.
Setiap kali negara Muslim berusaha mandiri, muncul konflik internal, tekanan ekonomi, atau intervensi politik. Inilah wajah kolonialisme modern: tak perlu bendera, cukup utang, korupsi, dan perpecahan.
Tragedi Gaza yang akan direvitalisasi (reviera-kan) dan perang saudara Sudan yang dirongrong intervensi asing untuk menguasai tambang emas serta membendung Islam politik, harus menjadi pelajaran bagi Indonesia. Negara yang luas dan kaya ini tentu menjadi incaran kekuatan oligarki globalis dan sangat rentan dipecah belah serta dilemahkan.
Untuk mencegah hal itu, diperlukan jihad kolektif. Dalam konteks ini, jihad terbesar bukan lagi perang fisik, tetapi perlawanan terhadap keserakahan sistemik: melawan mafia sumber daya, oligarki ekonomi, dan rezim rente yang menindas rakyat kecil.
Pemberantasan mafia — dari narkoba hingga energi — bukan sekadar urusan hukum, tetapi bagian dari jihad moral untuk memulihkan keadilan sosial dan memperkuat ketahanan nasional agar Indonesia menjadi negara kuat yang disegani dunia.
Belajar Dari Sejarah Kolonial
Strategi pecah belah pernah dipraktikkan Belanda di Nusantara melalui politik devide et impera. Mereka memecah kerajaan-kerajaan Islam, mengadu bangsawan, kaum adat, dan ulama, serta memperalat kelompok lokal.
Kini pola serupa terjadi dalam skala global. Bedanya, senjatanya bukan meriam, melainkan propaganda, utang, dan disinformasi.
Dalam dunia modern, kedaulatan bukan hanya berarti menguasai wilayah, tetapi juga menguasai narasi dan solidaritas. Bangsa yang kehilangan kemampuan mengelola perbedaan akan mudah dijajah ulang — bukan oleh tentara, melainkan oleh ideologi dan sistem global.
Persatuan Sebagai Kekuatan Strategis
Islam tidak menolak perbedaan. Bahkan, perbedaan adalah bagian dari hikmah penciptaan. Namun perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk perpecahan.
Allah berfirman: “Orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (untuk saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.”
Kita boleh berbeda pandangan fikih, mazhab, atau strategi politik, tetapi tidak boleh berpecah dalam visi: menegakkan keadilan, melawan kezaliman, dan membela kemanusiaan.
Persatuan umat bukan utopia. Ia bisa dimulai dari hal sederhana: menghormati perbedaan (seperti dalam hubungan intra-Ahlusunah: Asy‘ari–Maturidi–Atsari dalam akidah dan Hanafi–Maliki–Syafi‘i–Hanbali dalam fikih), koeksistensi damai (ta‘ayusy bukan taqrib, seperti dalam hubungan Suni–Syiah), menolak narasi kebencian, serta membangun sinergi untuk kemandirian ekonomi dan politik.
Selama umat Islam masih terjebak dalam pertikaian identitas, proyek global yang melemahkan dunia Islam akan terus berjalan tanpa perlawanan berarti.
Jalan Satu Umat
Hari ini ancaman terbesar umat Islam bukan lagi penjajahan fisik, melainkan penjajahan pikiran. Kita terbelah oleh ideologi, ekonomi, dan media. Padahal musuh yang sebenarnya adalah sistem yang menindas rakyat dan menguasai sumber daya tanpa nurani.
Maka persatuan dan persaudaraan adalah kunci strategis untuk melawan penjajahan yang masuk melalui strategi pecah belah.
“Orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (untuk saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.” (Al-Anfal: 73)
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan bukan pilihan, tetapi kewajiban iman. Persatuan bukan slogan, tetapi strategi peradaban.
Jika umat Islam mampu bersatu, membangun ekonomi mandiri, dan mengelola perbedaan dengan hikmah, maka tidak ada kekuatan global mana pun yang dapat menjajahnya. Namun jika terus terpecah, sejarah akan berulang: peradaban yang dulu memimpin dunia akan kembali menjadi penonton atas keruntuhan dirinya sendiri.
(Fahmi Salim)



