Syiah, Wahabi, dan Ironi Persatuan Umat Islam

Salafusshalih.com – Sudah sepekan, dunia diguncang percikan perang terbuka antara Iran dan Israel. Meski perang terjadi dalam jarak ribuan kilometer, gelombang reaksi yang muncul justru mempertontonkan konflik teologis, sektarianisme Muslim, dan kemunafikan Arab dalam geopolitik. Banyak umat Islam, terutama dari kalangan Wahabi, malah lebih gelisah pada kemungkinan kemenangan Iran, ketimbang kejahatan sistemik Zionis Israel.
Di situlah, ada ironi mendalam, bahwa persatuan umat Islam terkoyak dari dalam: oleh dogma, oleh kebencian sektarian, dan oleh kepentingan ideologis Wahabi. Seperti dicatat sejarah, Wahabi menjadi perangkat ideologis untuk mengabsahkan kekuasaan, menundukkan rival politik, dan mendefinisikan siapa yang ‘layak’ atau ‘tidak layak’ dianggap Muslim.
Ketika Iran muncul sebagai kekuatan Islam non-Sunni yang menantang hegemoni AS dan Israel, kaum Wahabi tidak membacanya dalam bingkai geopolitik persaudaraan negara Muslim, tapi langsung mengkafirkannya karena Syiah. Pada saat yang sama, para penguasa Arab Teluk—yang menjadi sekutu Wahabi—malah menjalin hubungan ekonomi, diplomatik, dan militer dengan Zionis. Ironi hipokrisi macam apa yang tengah mereka pertontonkan?
Memang, Iran bukan negara tanpa cacat. Namun, tidak bisa dibantah, bahwa Republik Islam Iran adalah satu dari sedikit negara yang secara konsisten menantang dominasi Israel dan Barat. Dukungan Iran kepada Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman menunjukkan bahwa lebih dari sekadar negara Syiah, Iran adalah pemain geopolitik yang serius menyusun front perlawanan terhadap kolonialisme modern.
Namun Wahabi memilih mengabaikan persatuan Islam demi bersekutu dengan pihak yang menindas umat Islam itu sendiri. Iran mereka gambarkan sebagai musuh utama, sementara Israel hanya disebut dalam kutukan retoris belaka. Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, bahkan yang terkini Suriah, semuanya telah menjajaki normalisasi hubungan dengan Israel. Wahabi anti-Syiah dan sebaliknya. Persatuan Islam tidak ada dalam peta mereka.
Yang tragis, suara perlawanan terhadap normalisasi Arab dengan Zionis hampir tidak muncul dari para dedengkot Wahabi. Mereka sibuk memperpanjang daftar musuh internal: Syiah, sufi, aktivis hak asasi, bahkan Sunni yang kritis. Saat Gaza dibombardir, para mufti Wahabi diam. Ketika rudal Iran terbang ke Israel, mereka mengutuk Syiah. Dan ketika Israel hendak serang Iran, mereka menuduhkan akting belaka.
Penting digarisbawahi, dari semua fakta tersebut, bahwa sektarianisme hari ini adalah warisan kolonial yang memecah-belah persatuan umat dan memalukan Islam. Selama puluhan tahun, kelompok Sunni telah dicekoki narasi bahwa Syiah adalah musuh. Tidak cukup dengan berbeda mazhab, mereka dilecehkan, dikafirkan, bahkan diposisikan lebih jahat daripada Zionis Yahudi.
Padahal dalam sejarah Islam klasik, perbedaan pemahaman politik, fikih, dan teologi adalah hal yang lazim. Mazhab tidak boleh menjadi alasan untuk saling menumpahkan darah, dan persatuan umat begitu erat hingga Wahabi datang dan memonopoli narasi ‘kebenaran dan kemurnian Islam’.
Ironinya, di saat musuh nyata umat Islam adalah Zionis Yahudi dan imperialisme ekonomi-politik Barat, sebagian Muslim—lagi-lagi ulah provokasi Wahabi, malah sibuk melawan sesama Muslim yang berbeda tafsir. Bahkan tak sedikit ulama Wahabi yang lebih nyaman melihat Israel menang daripada Iran, hanya karena identitas sektarian. Ironi persatuan umat telah berada di titik nadir, dan jelas membahayakan Islam di masa depan.
Padahal, konferensi internasional dan forum ulama dunia Islam kerap mengusung tema ‘ukhuah islamiah’, persatuan umat, dan solidaritas Palestina. Tapi di balik jargon tersebut, para ideolog Wahabi ataupun Syiah saling berkebalikan. Uang haji bahkan digunakan sebagian untuk membiayai proyek kolaboratif dengan perusahaan Israel. Basis data keamanan beberapa negara Teluk bahkan terintegrasi dengan teknologi Zionis.
Mestinya, sebagai kekuatan ideologis, Wahabi menjadi benteng moral. Namun mereka memilih jadi pelayan setia para penguasa yang menjilat Barat. Mereka mencaci Iran yang mempertahankan kehormatan Islam, sembari diam melihat Mesir menutup perbatasan Gaza. Kaum Wahabi bahkan tidak malu memakai hadis-hadis yang keluar dari konteks sejarah untuk melegitimasi kebencian mereka.
Tentu, hal ini tidak diproyeksikan untuk mengajak untuk membela Iran secara buta. Justru, mengajak untuk menilai secara jernih, rasional, dan adil dalam framework ‘persatuan Islam’. Dalam konflik besar Iran vs Zionis Israel, pertanyaannya bukan lagi ‘Syiah atau Sunni’, melainkan siapa yang berdiri melawan kebatilan, dan siapa yang justru tunduk pada musuh-musuh umat dengan jubah putih Arab bernama ‘kemunafikan’.
Jika umat Islam terus dibutakan oleh sektarianisme, dikendalikan oleh elite Wahabi yang menjual agama kepada kekuasaan, maka jangan heran jika suatu hari, yang tersisa dari Islam hanya nostalgia dan museum sejarah.
Wahabi telah gagal menjaga umat. Mereka tidak mempersatukan, justru memecah. Tidak memuliakan Islam, tapi menjualnya. Daripada bersatu di bawah solidaritas Islam, mereka memilih mengkafirkan Syiah sebagai pihak yang berani melawan kezaliman, keangkuhan, dan kebiadaban Zionis Israel dan musuh-musuh Islam. Kapan ironi persatuan tersebut selesai? Umat Islam memegang kuncinya.
(Ahmad Khoiri)



