Mujadalah

Menemukan Cahaya Petunjuk, Tafsir Al Maidah Ayat 15-16

Salafusshalih.com – Setelah pada ayat sebelumnya Allah Swt. menggambarkan bagaimana sebagian pesan yang telah diberikan kepada manusia justru dilupakan sehingga lahir permusuhan dan kebencian, Surah Al-Mā’idah ayat 15 menghadirkan sebuah perubahan suasana yang sangat penting.

Jika ayat 14 berbicara tentang manusia yang kehilangan sebagian dari pesan Tuhan, maka ayat 15 berbicara tentang datangnya Rasul yang kembali membawa penjelasan.

Seolah-olah Al-Qur’an sedang menunjukkan bahwa ketika manusia mengalami kekacauan dalam memahami kebenaran, Allah tidak membiarkannya berjalan tanpa petunjuk. Allah menghadirkan utusan dan wahyu untuk menerangi kembali apa yang telah menjadi kabur.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

“Wahai Ahli Kitab! Sungguh, telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan kepada kamu banyak hal dari apa yang dahulu kamu sembunyikan dari Kitab, dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepada kamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan.”

Ketika Kebenaran Tidak Lagi Terbuka

Perhatikan bagaimana ayat ini dimulai dengan panggilan يَا أَهْلَ الْكِتَابِ, “Wahai Ahli Kitab.” Panggilan ini penting karena Al-Qur’an tidak sedang berbicara kepada manusia yang sama sekali tidak memiliki tradisi wahyu.

Mereka justru disebut sebagai orang-orang yang memiliki kitab. Namun, memiliki kitab ternyata belum otomatis berarti seluruh kebenaran yang terkandung di dalamnya hadir secara terbuka dalam kehidupan mereka.

Ayat ini kemudian menyebut adanya sesuatu yang mereka تُخْفُونَ, sesuatu yang mereka sembunyikan dari Kitab. Dengan demikian, persoalan manusia tidak hanya berupa lupa seperti yang disebut pada ayat sebelumnya, tetapi juga dapat berupa menyembunyikan sebagian kebenaran yang telah diketahui.

Di sini kita melihat satu rangkaian yang sangat menarik. Pada ayat 14 disebut فَنَسُوا, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Pada ayat 15 muncul تُخْفُونَ, kalian menyembunyikan sebagian dari Kitab. Dua keadaan ini sama-sama menunjukkan adanya jarak antara manusia dan kebenaran.

Yang satu berkaitan dengan sesuatu yang tidak lagi dijaga dalam kesadaran dan kehidupan, sedangkan yang lain berkaitan dengan sesuatu yang diketahui tetapi disembunyikan. Al-Qur’an kemudian menghadirkan Rasul untuk يُبَيِّنُ, menjelaskan dan menerangkan apa yang telah menjadi kabur atau tersembunyi.

Sejumlah tafsir menjelaskan bahwa Rasul menerangkan berbagai perkara dari kitab terdahulu yang disembunyikan atau diselewengkan penjelasannya, sementara terhadap sebagian perkara lainnya beliau tidak memperpanjang penjelasan karena tidak ada maslahat yang mengharuskan hal itu.

Rasul Datang Membawa Penjelasan

Kata يُبَيِّنُ berasal dari akar kata yang berkaitan dengan بَيَان, yaitu penjelasan yang membuat sesuatu menjadi jelas. Ini penting karena wahyu bukan hanya memberikan informasi baru. Wahyu juga memiliki fungsi membuka sesuatu yang sebelumnya tertutup, meluruskan sesuatu yang telah kabur, dan memperlihatkan kebenaran sebagaimana mestinya.

Dengan demikian, kehadiran Rasul bukan sekadar kehadiran seorang pembawa teks, tetapi kehadiran seorang pembawa penjelasan. Rasul menjelaskan wahyu dengan perkataan, perbuatan, dan keteladanan hidupnya sehingga manusia tidak hanya memiliki kitab, tetapi juga memiliki jalan untuk memahami dan menjalankannya.

Menariknya, setelah berbicara tentang Rasul yang menjelaskan, Allah kemudian berfirman:

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

“Sungguh, telah datang kepada kalian dari Allah cahaya dan Kitab yang menjelaskan.”

Para mufasir memiliki penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan نُورٌ. Dalam konteks ayat ini, ia dikaitkan dengan petunjuk Allah yang datang bersama risalah Nabi Muhammad, sedangkan كِتَابٌ مُبِينٌ dipahami sebagai Al-Qur’an yang menjelaskan.

Kitab yang Dibaca, Cahaya yang Menuntun

Di sini ada sesuatu yang menarik secara epistemologis. Al-Qur’an tidak hanya disebut sebagai kitab, tetapi juga sebagai نُورٌ, cahaya. Kitab memberikan kandungan yang dapat dibaca, sedangkan cahaya memungkinkan manusia melihat. Sebuah kitab bisa berada di hadapan seseorang, tetapi jika ia tidak memiliki cahaya petunjuk, teks itu belum tentu mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Karena itu, wahyu bukan hanya persoalan memiliki informasi tentang Tuhan, tetapi juga memperoleh kemampuan untuk melihat kehidupan dalam terang petunjuk Tuhan.

Kemudian ayat 16 menjelaskan fungsi dari cahaya dan kitab tersebut. Allah berfirman:

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, dan dengan izin-Nya mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, serta menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan wahyu bukan sekadar agar manusia mengetahui sesuatu. Wahyu memiliki arah. Allah يَهْدِي, memberi petunjuk. Namun, perhatikan siapa yang disebut mendapatkan petunjuk itu: مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ, orang yang mengikuti keridaan-Nya.

Jadi, persoalan petunjuk tidak berhenti pada datangnya cahaya. Manusia juga harus memilih untuk berjalan dalam cahaya tersebut. Wahyu datang dari Allah, Rasul menjelaskan, kitab menerangkan, tetapi manusia tetap berhadapan dengan pilihan: apakah ia mengikuti keridaan Allah atau tidak.

Di sinilah kita menemukan hubungan yang sangat kuat antara ayat 15 dan ayat 16. Ayat 15 berbicara tentang kedatangan Rasul, cahaya, serta kitab yang menjelaskan, sedangkan ayat 16 berbicara tentang apa yang terjadi ketika manusia mengikuti petunjuk tersebut.

Ia diarahkan menuju سُبُلَ السَّلَامِ, jalan-jalan keselamatan, dikeluarkan dari الظُّلُمَاتِ, berbagai kegelapan, menuju النُّورِ, cahaya, dan akhirnya diarahkan menuju صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, jalan yang lurus.

Kata السَّلَامِ di sini juga menarik untuk direnungkan. Ia tidak sekadar menunjuk pada keadaan tanpa konflik. Dalam penafsiran ulama, سُبُلَ السَّلَامِ dapat dipahami sebagai jalan-jalan keselamatan yang mengantarkan manusia kepada kebaikan dan keselamatan, bahkan dikaitkan dengan jalan menuju دَارُ السَّلَامِ.

Maka, wahyu bukan hanya menyelamatkan manusia dari kesalahan berpikir, tetapi juga mengarahkan seluruh perjalanan hidupnya menuju keselamatan.

Dari Berbagai Kegelapan Menuju Satu Cahaya

Demikian pula penggunaan bentuk jamak pada الظُّلُمَاتِ, “kegelapan-kegelapan”, yang berhadapan dengan النُّورِ, “cahaya”. Kegelapan disebut dalam bentuk jamak, sedangkan cahaya disebut dalam bentuk tunggal. Ini memberi ruang perenungan yang sangat kuat: jalan menuju kesesatan dapat bercabang dalam banyak bentuk, sementara sumber cahaya petunjuk berasal dari satu kebenaran yang menerangi.

Kegelapan bisa hadir dalam bentuk kebodohan, kesombongan, hawa nafsu, fanatisme, kebingungan, kepentingan, dan berbagai penyimpangan lainnya. Namun, manusia membutuhkan satu cahaya yang memungkinkan seluruh kegelapan itu terlihat dan dilampaui.

Jika ayat 14 berbicara tentang sebagian pesan yang dilupakan dan akibatnya berupa permusuhan dan kebencian, maka ayat 15–16 seperti menawarkan jalan keluar dari keadaan tersebut. Manusia yang kehilangan arah tidak cukup hanya diberi nasihat agar tidak tersesat. Ia membutuhkan cahaya. Ia membutuhkan penjelasan. Ia membutuhkan petunjuk. Ia membutuhkan jalan yang dapat ditempuh.

Karena itu, Al-Qur’an dalam ayat ini tidak hadir sebagai benda yang hanya disimpan, tetapi sebagai petunjuk yang menggerakkan manusia dari satu keadaan menuju keadaan yang lain. Dari kegelapan menuju cahaya. Dari kebingungan menuju jalan yang lurus. Dari kondisi ketika kebenaran disembunyikan menuju keterbukaan. Dari pengetahuan yang tidak dijalankan menuju pengetahuan yang menjadi petunjuk kehidupan.

Memiliki Al Quran Belum Tentu Berjalan Dalam Petunjuknya

Di sinilah kita dapat memahami bahwa krisis manusia tidak selalu selesai dengan menambah informasi. Manusia bisa memiliki banyak pengetahuan, tetapi tetap berada dalam kegelapan. Sebab, persoalan mendasarnya bukan semata-mata berapa banyak yang diketahui, melainkan dengan cahaya apa manusia melihat apa yang diketahuinya.

Seseorang dapat membaca banyak buku tentang kehidupan, tetapi belum tentu menemukan jalan keselamatan. Seseorang dapat memiliki kecerdasan yang tinggi, tetapi belum tentu mengetahui arah hidupnya. Seseorang dapat menguasai berbagai informasi, tetapi belum tentu mampu membedakan mana yang membawa kepada kebenaran dan mana yang menjauhkannya dari kebenaran.

Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya menawarkan pengetahuan, tetapi juga hidayah.

Maka, rangkaian ayat 14, 15, dan 16 dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan yang sangat dalam. Ketika pesan Tuhan dilupakan, lahirlah akibat dalam kehidupan manusia. Ketika sebagian kebenaran disembunyikan, datanglah Rasul untuk menjelaskan. Ketika manusia berada dalam kegelapan, Allah menghadirkan cahaya dan kitab yang menerangkan.

Namun, cahaya itu baru menjadi jalan keselamatan bagi mereka yang memilih mengikuti keridaan Allah. Dari sana manusia dikeluarkan dari berbagai kegelapan menuju cahaya dan akhirnya diarahkan kepada jalan yang lurus.

Barangkali pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri bukan hanya, “Apakah saya memiliki Al-Qur’an?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah Al-Qur’an telah menjadi cahaya yang membuat saya mampu melihat kehidupan?”

Sebab, seseorang dapat memiliki kitab, tetapi tetap berada dalam kegelapan. Ia dapat membaca ayat, tetapi belum tentu berjalan dalam petunjuknya. Sebaliknya, ketika wahyu benar-benar menjadi cahaya, ia bukan hanya menambah apa yang diketahui manusia, tetapi mengubah cara manusia melihat, memilih, berjalan, dan menjalani kehidupan.

Al-Qur’an tidak datang hanya untuk membuat manusia mengetahui bahwa ada jalan. Ia datang agar manusia berjalan di jalan itu.

Dan pada akhirnya, setelah manusia mengalami perjalanan dari kegelapan menuju cahaya, Allah menyebut tujuan akhirnya dengan sangat jelas:

وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan Dia menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”

Sebab, mengetahui cahaya belum cukup. Yang paling penting adalah membiarkan cahaya itu menuntun langkah.

(Muhammad Hidayatulloh)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button