Ulul Amri

Aktivis Bukan Robot: Slow Living di Tengah Tuntutan Perjuangan

Salafusshalih.com – Ada kegelisahan yang jujur di kalangan aktivis sosial dan keagamaan ketika mendengar istilah slow living. Bukankah seorang aktivis dituntut bergerak cepat? Bukankah dakwah dan pelayanan umat sering menyangkut hidup dan mati—bencana alam, pasien yang butuh pendampingan, anak yatim yang menunggu uluran tangan?

Lalu, bagaimana mungkin kita berbicara tentang “melambat”? Apakah slow living hanya alasan halus untuk meninggalkan tanggung jawab sosial dan tenggelam dalam kenyamanan diri?

Kegelisahan ini sah dan perlu. Namun, saya ingin menawarkan pembacaan yang berbeda: slow living yang dipahami secara Islami justru bukan antitesis dari kerja cepat, melainkan fondasi yang membuat kerja cepat itu berkelanjutan dan bermakna.

Islam dan Etika Tempo

Islam tidak mengenal dikotomi tajam antara “cepat” dan “lambat” sebagai nilai absolut. Yang dikenal adalah iqtisad—hidup seimbang, tidak berlebihan dan tidak kikir—serta i’tidal, sikap proporsional yang menghindari dua ekstrem. Al-Qur’an menegaskan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia” Al-Qasas: 77). Ayat ini bukan ajakan bermalas-malasan, melainkan peringatan agar aktivitas duniawi tidak menelan seluruh ruang jiwa.

Rasulullah Saw. sendiri memberi teladan yang sangat jelas. Beliau berpuasa dan berbuka, salat malam dan tidur, berjihad dan berkeluarga. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari, beliau bersabda, “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, Tuhanmu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu.” Hak tubuh untuk beristirahat bukan kemewahan; itu bagian dari ketaatan. Tidur bukan pemborosan waktu; itu sunah yang menjaga kapasitas untuk beribadah dan melayani.

Tazkiah: Merawat Diri Untuk Merawat Umat

Kekhawatiran bahwa slow living berpusat pada diri sendiri lahir dari pemahaman yang terpotong. Dalam kerangka tazkiah al-nafs—penyucian jiwa—merawat diri bukan tujuan akhir, melainkan sarana. Imam Al-Ghazali membagi waktu menjadi tiga bagian: sepertiga untuk ibadah, sepertiga untuk istirahat, dan sepertiga untuk bekerja. Pembagian ini bukan kompromi malas, melainkan strategi agar seorang hamba tidak kehabisan tenaga di tengah jalan.

Aktivis yang tidak pernah berhenti, yang mengabaikan tidur dan makanan, yang terus memaksa diri melampaui batas, bukan sedang meneladani Nabi. Ia sedang menuju burnout—kelelahan fisik, krisis spiritual, dan pada akhirnya kehilangan kejernihan arah. Dalam bahasa Muhammadiyah, ia berisiko “mutung”: mundur teratur karena tidak sanggup lagi. Pelayanan yang lahir dari tubuh yang hancur dan jiwa yang kering sering kali kehilangan empati dan ketepatan.

Pikir, Zikir, Plesir

Pikir mengasah intelektual, zikir menjaga hati, dan plesir—rekreasi, istirahat, waktu bersama keluarga—memulihkan energi. Plesir di sini bukan pelarian dari tanggung jawab. Ia adalah ruang pemulihan yang membuat tanggung jawab dapat ditunaikan dengan lebih baik. Nabi Saw. pun dikenal menganjurkan rekreasi dan hiburan yang halal. Dalam sebuah hadis, beliau menyuruh Abu Bakar membiarkan Aisyah menonton pertunjukan panah di masjid. Beliau memahami bahwa jiwa butuh jeda.

Bukan Melambat, Melainkan Bertempo

Slow living yang Islami bukan tentang meninggalkan kerja cepat. Ia tentang memilih tempo yang tepat: cepat ketika nyawa taruhannya, lambat ketika jiwa butuh dipulihkan. Ia tentang menolak hustle culture yang mengorbankan tubuh, keluarga, dan hubungan dengan Allah demi produktivitas tanpa makna. Ia tentang menyadari bahwa menjadi aktivis bukan berarti menjadi robot.

Pertanyaan kuncinya bukan “apakah aku bergerak cukup cepat?”, melainkan “apakah gerakku lahir dari hati yang terhubung dengan Allah dan sesama?” Di situ slow living berhenti menjadi tren untuk menjadi etika perjuangan.

(Dr. Aji Damanuri, M.E.I.)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button