Tsaqofah

Meluruskan Arah Harapan di Era Digital dari Manifesting Kembali ke Tauhid

Salafusshalih.com – Akhir-akhir ini, kalau kita scroll TikTok, rasanya sulit sekali untuk tidak melewatkan konten yang membahas soal manifesting. Tren ini berkembang begitu cepat dengan berbagai cara, mulai dari menuliskan impian (scripting), memvisualisasikan masa depan, hingga yang paling baru dan marak: manifesting lewat lagu.

Banyak anak muda membuat video dengan memutar lagu tertentu, lalu menyisipkan teks harapan seolah-olah lirik atau alunan lagu tersebut bisa menjadi perantara doa atau cara “mengirim sinyal” ke alam semesta agar keinginan mereka terkabul. Berpikir positif dan punya impian besar tentu bukan hal yang dilarang. Namun, ketika tren ini mulai menggeser cara kita berharap—dari yang tadinya memohon kepada Sang Pencipta beralih ke “kekuatan energi semesta” atau perantara tren—hal ini tentu perlu diluruskan dari sudut pandang akidah.

Sebelum terbawa terlalu jauh dengan tren tersebut, mari kita pahami dulu apa sebenarnya arti di balik istilah ini. Manifestasi sendiri itu apa sih artinya? Manifestasi berasal dari bahasa Inggris ‘manifesting’ yang secara harfiah artinya mewujudkan. Manifesting adalah membuat sesuatu menjadi kenyataan dengan memanfaatkan pikiran alam bawah sadar kita.

Dalam manifestasi ada hukum LOA (law of attraction), hukum tarik-menarik atau keyakinan bahwa pikiran dan energi yang kita pancarkan bisa menarik hal yang serupa. Misalnya, pikiran, tindakan, dan perasaan kita positif, maka kita bisa menarik hal-hal baik agar semakin dekat dengan kita. Begitupun sebaliknya, jika pikiran dan tindakanmu dipenuhi energi negatif, maka kamu bisa menarik hal-hal negatif semakin dekat. Jadi, kita berpikir tentang sesuatu yang ingin kita capai. Dari situ mulailah otak dan diri kita memfokuskannya pada satu hal itu.

Fenomena manifesting yang berseliweran di media sosial ini sebenarnya bukan sekadar tren biasa. Dalam kajian sosiologi dan agama, hal ini merupakan bagian dari pergeseran gaya hidup masyarakat modern yang mulai mencari bentuk “spiritualitas baru” yang lebih personal, fleksibel, dan berpusat pada pengalaman batin individu. Kalau dulu orang mencari ketenangan lewat lembaga keagamaan formal, sekarang banyak yang beralih meracik sendiri cara-cara spiritual mereka—termasuk lewat praktik visualisasi dan afirmasi ala Law of Attraction (LoA).

Dari sudut pandang psikologi, manifesting sebenarnya punya sisi positif. Ia mirip dengan konsep self-fulfilling prophecy atau motivasi diri, di mana pikiran yang positif bisa melahirkan dorongan untuk bersikap lebih optimis dan fokus mengejar tujuan.

Namun, di sinilah letak titik krusial perbedaannya dengan Islam. Budaya manifesting modern sering kali terjebak dalam mind-centered spirituality—yakni keyakinan bahwa pikiran, energi, dan diri manusialah yang menjadi pusat penentu utama terwujudnya sebuah realitas. Padahal, sebagai seorang Muslim, harapan kita tidak boleh berhenti pada kekuatan mental atau “energi alam semesta”. Islam mengajarkan orientasi yang bersifat teosentris, di mana Allah SWT adalah pusat dari segala bentuk harapan, doa, dan hasil akhir.

Kalau dalam Law of Attraction kita diajarkan bahwa pikiran dan energi kitalah yang menjadi penentu utama, Islam sebenarnya punya konsep yang jauh lebih indah dan terstruktur dalam mewujudkan harapan. Mengutip kajian ilmiah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Al-Qur’an membangun mekanisme harapan yang terintegrasi dalam lima tahapan: raja’ (harapan kepada Allah), doa, ikhtiyar (usaha nyata), tawakkal (penyerahan diri), dan taqdir (ketetapan akhir).

Berbeda dengan manifesting modern yang kerap menempatkan manusia sebagai pengatur realitas, konsep Islam bersifat teosentris—menempatkan Allah SWT sebagai pusat dari segalanya. Di sinilah letak esensi akidahnya; dalam bingkai tauhid, seorang Muslim tidak boleh menyerahkan kedaulatan hati dan harapannya kepada hukum tarik-menarik kosmik atau energi semesta yang abstrak. Sebab, meluruskan arah doa dan harapan murni kepada Allah adalah wujud pengamalan tauhid yang paling mendasar.

Lantas, bagaimana Islam menuntun kita dalam memohon dan berharap? Al-Qur’an sudah memberikan panduan yang jauh lebih menenangkan dan pasti. Ketika tren modern mengajarkan kita untuk mengirim energi ke alam semesta, Allah SWT justru menegaskan kedekatan-Nya secara langsung tanpa perantara apa pun. Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 186, Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…”

Ayat ini sekaligus menepis anggapan bahwa kita butuh “frekuensi energi” atau media lagu tertentu untuk menyampaikan keinginan. Allah itu Maha Dekat dengan hamba-Nya.

Selain itu, penegasan serupa juga diperkuat dalam QS. Ar-Ra’d [13]: 14, di mana Allah menyatakan bahwa hanya kepada-Nya lah doa yang benar itu ditujukan, bukan kepada kekuatan kosmik atau hukum tarik-menarik yang abstrak. Perintah ini ditegaskan kembali dalam QS. Ghafir [40]: 60, di mana Allah berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” Melalui ayat-ayat ini, Islam mengarahkan kita bahwa tempat memohon yang paling akurat dan mustajab bukanlah “semesta”, melainkan Sang Pencipta semesta itu sendiri.

Tren manifesting yang marak di media sosial ini sebenarnya tidak harus ditolak secara mentah-mentah. Tren tersebut lahir dari pencarian manusia modern akan harapan dan ketenangan, yang jika dilihat secara psikologis bisa menjadi sarana untuk melatih optimisme.

Namun, sebagai umat Islam, kita perlu mendudukannya pada porsi yang tepat. Berbeda dengan Law of Attraction yang menempatkan kekuatan pikiran manusia sebagai pusat dari segalanya, Al-Qur’an mengarahkan seluruh fokus harapan murni kepada Allah SWT sebagai sumber segala kekuasaan.

Jadi, apakah manifesting itu dilarang? Tentu tidak. Praktik ini sangat boleh dijadikan sarana atau pedoman untuk memotivasi diri dalam menjalani hari dengan pikiran yang positif, menyusun impian, serta menjaga semangat.

Namun, yang paling krusial adalah jangan sampai manifesting menggeser esensi doa dan tauhid kita. Pikiran positif hanyalah pelengkap ikhtiar, sementara doa yang tuntas, usaha yang maksimal, dan tawakal tetap menjadi kunci utama, dengan takdir Allah sebagai penentu akhir dari segalanya.

(Hasheeva Majeedha El Fauzy)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button