Ulul Amri

Dalam Toleransi Beragama, Meneladani Akhlak Nabi Muhammad

Salafusshalih.com – Dalam kehidupan sehari-hari, kita hidup di tengah masyarakat yang beragam. Di antara kita mungkin ada yang memiliki tetangga beragama non-Muslim, atau teman yang berbeda agama. Hal tersebut tentu sudah menjadi hal yang lumrah bagi kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menerapkan toleransi beragama, yaitu sikap menghormati, menghargai, dan tidak mengganggu pemeluk agama lain yang ada di lingkungan kita. Di Indonesia sendiri, kasus intoleransi antar umat beragama masih sering dijumpai. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam memahami perbedaan antaragama di indonesia. Lalu, bagaimana cara agar kita menumbuhkan sikap toleransi?

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa sallam telah banyak memberikan teladan yang luar biasa dalam toleransi beragama. Pada saat Rasullulah hijrah ke Madinah, beliau membuat Piagam Madinah yang berisi bahwa kaum muslimin, orang Yahudi, dan orang musyrik di Madinah dianggap sebagai satu komunitas (ummah) , dan setiap kelompok berhak menjalankan agama masing-masing.

Di kisahkan pula, ketika kaum Nasrani dari Najran berkunjung ke masjid Nabawi untuk menemui Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Mereka terdiri dari 60 orang termasuk tokoh agama, pemuka masyarakat dan pemikir Kristen. Tujuan mereka adalah ingin berdiskusi tentang islam, khususnya tentang Tauhid dan nabi Isa (yesus) dalam ajaran Islam. Rasulullah menyambut dan menerima mereka dengan penuh hormat dan kelembutan. Bahkan, ketika mereka hendak menjalankan ibadah sesuai keyakinan mereka, Rasulullah mengizinkan mereka beribadah di masjid Nabawi yang merupakan tempat ibadah umat Islam.

Ibnu Ishaq meriwayatkan:

“Ketika waktu ibadah tiba, mereka (umat nasrani dari Najran) melakukan ibadah di dalam masjid Rasulullah. Sebagian sahabat ingin mencegahnya tetapi Rasulullah berkata, ‘biarkan mereka’.”

Rasulullah membiarkan mereka beribadah dengan cara mereka sendiri.

Dari kisah-kisah diatas, kita dapat memahami bahwa Rasulullah memiliki sikap toleransi yang luar biasa terhadap pemeluk agama lain. sebagai umatnya, kita harus meneladani akhlak beliau tersebut. Dalam hadist, Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَام

Artinya : “Barangsiapa yang membunuh seorang mu’ahad (non-Muslim yang di lindungi) maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium dari jarak perjalanan 40 tahun“. (HR. Bukhari)

Sikap toleransi dapat muncul kita kita terbiasa berbaur dengan lingkungan yang beragam, baik dalam hal agama, suku, maupun budaya. Karena pada hakikatnya, manusia sudah dianugerahi rasa cinta dan kasih dalam dirinya. Maka dari itu kita perlu membiasakan diri untuk saling berkomunikasi, membantu, dan menjaga satu sama lain tanpa memandang agama dan budaya.

(Tria Atmaja)

Related Articles

Back to top button