Kapitalisme dan Etos Al Ma’un

Salafusshalih.com – Kapitalisme modern sering tampil dengan wajah meyakinkan. Ia menjanjikan pertumbuhan, efisiensi, dan kesejahteraan melalui mekanisme pasar.
Negara-negara berlomba mengejar investasi, produk domestik bruto meningkat, dan konsumsi dijadikan indikator kemajuan.
Namun di balik statistik itu, pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah kesejahteraan benar-benar dirasakan oleh semua, atau hanya oleh mereka yang memiliki modal dan akses?
Islam sejak awal menempatkan kesejahteraan sosial sebagai bagian integral dari misi keagamaan. Al-Qur’an tidak pernah memisahkan iman dari keadilan sosial.
Bahkan keberagamaan diuji bukan pada ritual semata, melainkan pada keberpihakan terhadap yang lemah.
Kapitalisme terutama dalam bentuknya yang liberal dan nyaris tanpa kendali, patut dikritisi secara serius dari perspektif Islam Berkemajuan.
Al-Qur’an memberikan kritik yang sangat tegas terhadap penumpukan kekayaan. “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (Surah Al-Hasyr: 7)
Ayat ini bukan sekadar nasihat etis, melainkan prinsip dasar ekonomi Islam. Kekayaan harus beredar, bukan terkonsentrasi.
Ketika sistem ekonomi justru mempercepat akumulasi modal pada segelintir elite dan membiarkan mayoritas hidup dalam kerentanan, maka sistem tersebut bertentangan dengan nilai Qur’ani.
Kapitalisme bekerja dengan logika kompetisi bebas. Namun kompetisi itu tidak pernah benar-benar bebas. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama.
Modal, pendidikan, jaringan, dan kekuasaan diwariskan lintas generasi. Akibatnya, kemiskinan sering kali bukan kegagalan individu, melainkan hasil dari struktur yang timpang.
Ironisnya, kapitalisme cenderung mempersonalisasi kemiskinan dan menormalisasi ketimpangan sebagai hukum pasar.
Surah Al-Ma’un memberikan kritik paling tajam: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin”.
Ayat ini menunjukkan bahwa pengabaian terhadap kesejahteraan sosial adalah bentuk pendustaan agama, bukan kesalahan kecil yang bisa ditoleransi.
Ini adalah kritik nyata terhadap sistem ekonomi yang gagal menjamin kehidupan layak bagi rakyatnya.
Kapitalisme sering mengklaim mampu menciptakan kesejahteraan melalui pertumbuhan ekonomi. Namun Islam Berkemajuan menolak logika menunggu tetesan ke bawah.
Kesejahteraan dalam Islam harus dihadirkan secara langsung dan terstruktur. Zakat, infak, dan wakaf bukanlah instrumen karitas sukarela, melainkan mekanisme distribusi yang bersifat wajib dan sistemik.
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan yang tidak mendapat bagian.” (Surah Adz-Dzariyat: 19).
Ayat ini menegaskan bahwa kesejahteraan sosial adalah hak, bukan belas kasihan.
Di sinilah kapitalisme menunjukkan kelemahan mendasarnya. Ia mengakui kepemilikan pribadi, tetapi gagal menetapkan batas etis akumulasi. Ketika kekayaan menumpuk tanpa kontrol, lahirlah kesenjangan ekstrem.
Al-Qur’an memperingatkan mentalitas ini dengan keras: “Celakalah setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya” (Surah Al-Humazah: 1–2).
Kritik ini sangat relevan dengan budaya kapitalistik yang mengukur nilai hidup dari jumlah aset dan laba.
Amal Usaha
Dalam kerangka kesejahteraan sosial, peran negara juga sangat menentukan. Islam tidak membenarkan negara yang abai terhadap penderitaan rakyatnya.
Prinsip amar makruf nahi munkar berlaku pada level struktural. Ketika kebijakan publik lebih berpihak pada pemodal daripada buruh, lebih melindungi korporasi daripada rakyat kecil, maka ketidakadilan itu bukan netral secara moral. Diam terhadapnya adalah bentuk pengkhianatan nilai Islam.
Pada akhirnya, kapitalisme hanya boleh menjadi alat, bukan ideologi yang disakralkan. Ketika modal dibiarkan menguasai arah kehidupan sosial, maka nilai kemanusiaan akan terpinggirkan.
Sebab dalam pandangan Islam, iman yang hidup tidak akan membiarkan kekayaan berputar di lingkaran sempit, sementara kemiskinan dianggap takdir.
Kemajuan sejati adalah ketika kesejahteraan dirasakan bersama, dan agama benar-benar hadir sebagai rahmat bagi semesta alam.
(Ahmad Fathullah)



