Fikih

Uang Penghasilan Anak Kecil, Status Milik Orang Tuanya?

Salafusshalih.com – Masa kanak-kanak adalah masa yang penuh dengan keceriaan. Masa di mana kepolosan sikap dan sifat membuatnya tidak takut akan beban yang dipikul orang dewasa. Seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa esok hari. Bagi kebanyakan anak, masa kecil adalah masa di mana beban hanya tentang mengerjakan tugas, PR. Namun bagi sebagian yang lain, masa kecil bisa jadi sebuah trauma yang ingin mereka lupakan selama-lamanya.

Banyaknya kasus eksploitasi anak yang justru dilakukan oleh orang tuanya sendiri, bisa menjadi refleksi bersama. Bahwa masih banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak adalah anugerah yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka adalah amanah, yang seharusnya berhak mendapatkan kasih sayang dan pelukan hangat dari orang tuanya. Serta mendapatkan pendidikan yang layak, dan masa bermain yang proporsional. Bukan untuk dipaksa bekerja, apalagi sampai dieksploitasi.

Kita pastinya sepakat, kata eksploitasi anak, dengan segala konotasi negatifnya, tentu bertentangan dengan syariat, dalam hal ini hukum fiqih, maupun hukum positif di Indonesia. Namun yang kini menjadi persoalan adalah, bagaimana status uang yang dihasilkan oleh sang anak? Apakah bisa dimiliki oleh dirinya sendiri, atau sepenuhnya milik orang tua?

Jenis pekerjaan pada dasarnya dibagi menjadi dua, ada yang halal dan ada yang haram. Jika pekerjaan itu haram, maka akad yang dilakukan merupakan akad yang batil, tidak sah. Konsekuensi dari akad yang batil adalah orang yang berakad (dalam hal ini, orang tua maupun anaknya) tidak bisa memiliki barang/uang yang diakadkan. Sebagaimana keterangan dalam kitab at-Taqrib wa al-Irsyad karya Imam Al-Baqilani.

فأما قولهم عقد باطل وحكم باطل وشهادة باطلة وصحيحة وعقد صحيح. فإنما يعنون به نفوذه ووقوع التمليك به، ويريدون بقولهم فيه باطل أنه مما لا يقع به التمليك

Sedangkan jika jenis pekerjaan itu halal, maka di dalam kitab al-Hawy al Kabir dijelaskan bahwa seorang anak kecil berhak memiliki harta yang ia hasilkan sendiri, baik itu dari hasil memperoleh rikaz (harta terpendam), atau berburu, mencari rumput, dan lain-lain.

وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: لَا يَمْلِكُ الرِّكَازَ إِلَّا رَجُلٌ عَاقِلٌ فَأَمَّا المرأة أو الصبي أو المجنون، فَلَا يَمْلِكُونَهُ وَهَذَا غَلَطٌ، لِأَنَّ الرِّكَازَ كَسْبٌ لِوَاجِدِهِ كَاكْتِسَابِهِ بِالِاصْطِيَادِ وَغَيْرِهِ، فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَ فِي تَمَلُّكِهِ الرَّجُلُ، وَالْمَرْأَةُ وَالصَّبِيُّ وَالْمَجْنُونُ كَمَا يَسْتُوُونَ فِي الِاصْطِيَادِ وَالِاحْتِشَاشِ، وَإِذَا مَلَكُوهُ فَعَلَيْهِمْ خُمُسُهُ لِأَنَّهُمْ مِمَّنْ تَجِبُ عَلَيْهِمُ الزَّكَاةُ.

Namun ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan tasarruf bagi orang tuanya. Apakah orang tua berhak mentasarrufkan harta anaknya yang masih kecil, atau tidak? Di dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي مَالًا وَوَلَدًا، وَإِنَّ أَبِي يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِي! فَقَالَ: «أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ«

Artinya:“Diriwayatkan dari Jabir Ibn Abdillah bahwasanya seorang laki-laki berkata, wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak. Dan ayahku ingin menghambur-hamburkan hartaku. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, kamu dan hartamu adalah milik orang tuammu.”

Dalam menyikapi hadits di atas, ulama berbeda pendapat. Imam Khattabi dalam kitab Ma’alim as-Sunan berpendapat bahwa maksud dari hadits tersebut memiliki dua kemungkinan. Pertama, apabila orang tuamu menginginkan hartamu maka ia boleh mengambil sebatas kebutuhannya saja seperti halnya ia menggunakan hartanya sendiri. Dan apabila kamu tidak memiliki harta, maka wajib bagimu untuk bekerja dan menafkahinya. Kedua, orang tua menghendaki menggunakan harta sang anak, dibiarkan, dipersilahkan, hingga harta tersebut dihamburkan dan akhirnya habis tidak untuk kebutuhannya.

Menurut Imam Khattabi sendiri, kemungkinan kedua ini bukanlah apa yang dikehendaki dalam hadits. Bahkan beliau mengklaim bahwa tidak ada satu pun ahli fiqih yang berpendapat demikian.

ويشبه أن يكون ما ذكره السائل من اجتياح والده مآله إنما هو سبب النفقة عليه، وإن مقدارما يحتاج إليه للنفقة عليه شيء كثير لا يسعه عفو ماله والفضل منه إلاّ بأن يجتاح أصله ويأتي عليه فلم يعذره النبي ﷺ ولم يرخص له في ترك النفقة عليه، وقال له أنت ومالك لوالدك، على معنى أنه إذا احتاج إلى مالك أخذ منك قدر الحاجة كما يأخذ من ماله نفسه وإذا لم يكن لك مال وكان لك كسب لزمك أن تكتسب وتنفق عليه، فإما أن يكون أراد به إباحة ماله وخلاه واعتراضه حتى يجتاحه ويأتي عليه لا على هذا الوجه فلا أعلم أحدًا ذهب إليه من الفقهاء والله أعلم

Di sisi lain, ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa orang tua boleh memakan atau mengalokasikan harta anaknya semaunya, sebagaimana ia mengalokasikan hartanya sendiri. Dengan bertendensi pada hadists di atas. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Imam as-Shon’any. Dalam kitabnya yang berjudul Risalah Latifah Fi Syarhi Hadits Anta Wa Maluka Li Abika, beliau memberi pesan agar tidak tertipu oleh klaim Imam Khattabi.

إذا عرفَت هذا، فمذهب علي وعمر وابن مسعود وعائشة وجابر بن عبد الله وأنس بن مالك وابن عباس من الصحابة. ومن التابعين: مسروق والحكم ومجاهد والشعبي وعطاء وسعيد بن المسيب -فإنَّه رَوى عنه داود بن أبي هند، قال: الوالد يأكل من مال ولده ما شاء، والولد لا يأكل من مال والده إلَّا بإذنه- والحسن وقتادة. فهؤلاء سبعة من الصحابة، وثمانية من التابعين قائلون: أنَّ مال الولد لأبيه، يتصرف فيه كيف يشاء كما يتصرف فيما يملكه، وكل ما جاز له في مال نفسه من الإِنفاق وغيره جاز له في مال ولده. والحديث دليلٌ واضح فيما ذهبوا إليه. ولا يُغترّ لقول الخطابي (٢) في «معالم السنن» على حديث أنه يجتاح أبوه ماله: أنه لا يعلم أنَّ أحدًا يقول إنَّ معنى الحديث إباحة مال الولد لأبيه وأنه يأتي عليه إسرافًا وتبذيرًا، بل معناه إذا احتاج من مالك أخذ قدر الحاجة وإذا لم يكن لك مال وكان لك كسب لزمك أن تكسب عليه، انتهى.

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, sebaiknya kita bijak dalam menyikapi permasalahan ini dengan mempertimbangkan maslahah dan mafsadahnya. Artinya, jika alokasi orang tua terhadap harta anak mengakibatkan kemaslahatan pada anak, maka diperbolehkan. Sedangkan jika alokasi tersebut justru membawa madhorot pada anak, maka tidak diperbolehkan.

Dalam kitab Fiqih Islami Wa Adillatuhu disebutkan bahwa, ulama telah bersepakat bahwa seorang wali wajib mentasarrufkan harta anak kecil sesuai dengan kemaslahatan serta tidak menimbulkan kemadhorotan.

تصرفات ولي القاصراتفق الفقهاء على أن الولي يتصرف وجوبًا في مال الصبي القاصر بالمصلحة وعدم الضرر لقوله تعالى: ﴿ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتي هي أحسن﴾ وقوله سبحانه: ﴿وإن تخالطوهم فإخوانكم والله يعلم المفسد من المصلح﴾

Wallahu a’lam.

Referensi :

  • Al-Hawi al-Kabir, Al-Mawardi.
  • At-Taqrib wa Al-Irsyad, Al-Baqilani.
  • Sunan Ibnu Majah.
  • Ma’alim as-Sunan, al-Khattabi.
  • Risalah Latifah Fi Syarhi Hadits Anta Wa Maluka Li Abika, as-Shon’ani.
  • Fiqih Islami Wa Adillatuhu, Wahbah Zuhaili.

(Umu Salamah)

Related Articles

Back to top button