Melampaui Batas, Sikap Yang Merusak Kehidupan

Salafusshalih.com – Dalam arsitektur kehidupan yang dibangun oleh Islam, terdapat sebuah konsep agung bernama wasathiyah. Sebuah titik keseimbangan yang menempatkan manusia di tengah kebenaran.
Kehidupan bukanlah tentang mencapai titik ekstrem, melainkan tentang kemampuan menjaga harmoni di antara dua kutub. Namun musuh terbesar dari keseimbangan ini adalah sikap melampaui batas.
Secara filosofis, melampaui batas adalah bentuk ketidakadilan kepada Allah, orang lain, maupun diri sendiri.
Ketika seseorang melewati garis yang telah ditetapkan, ia tidak hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga merusak fitrah kesucian jiwanya.
Al-Qur’an memberikan rambu-rambu agar manusia tidak terjebak dalam lima bentuk melampaui batas yang dapat menghancurkan keberkahan hidup.
Pertama, Melampaui Batas dalam Konflik dan Perang
Islam adalah agama yang mengedepankan perdamaian. Perlawanan hanya diizinkan sebagai bentuk pertahanan diri dari kezaliman.
Bahkan dalam situasi penuh amarah seperti perang, seorang muslim dilarang melampiaskan dendam secara membabi buta.
Perang bukan untuk membumihanguskan, melainkan untuk mengendalikan musuh agar kembali pada kedamaian. Allah Swt berfirman dalam surah Al-Baqarah : 190
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تعتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Melampaui batas di sini mencakup larangan membunuh warga sipil yang tidak terlibat (wanita, anak-anak, orang tua), merusak lingkungan, atau menghancurkan fasilitas umum tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat.
Kedua, Melampaui Batas dalam Hukum dan Ketentuan
Manusia sering kali terjebak dalam keinginan untuk melebihi otoritas Tuhan dengan mengubah hukumNya. Mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.
Sikap ini adalah kesombongan intelektual dan spiritual. Allah Swt memperingatkan dalam surah Al-Ma’idah : 87
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Bahkan Nabi Muhammad Saw pun pernah ditegur oleh Allah melalui surah At-Tahriim ayat 1 ketika mengharamkan bagi dirinya sesuatu yang halal demi menyenangkan hati istri-istrinya.
Ini menunjukkan bahwa hukum Tuhan bersifat mutlak dan tidak boleh dimanipulasi oleh kepentingan emosional manusia.
Ketiga, Melampaui Batas dalam Ibadah dan Doa
Ibadah adalah tugas utama penciptaan manusia, namun berlebihan di dalamnya justru dilarang.
Ibadah yang melampaui batas adalah yang mengabaikan hak tubuh dan hak sosial, seperti kisah sahabat yang ingin salat sepanjang malam tanpa tidur atau puasa setiap hari tanpa berbuka.
Selain dalam ritual, sikap melampaui batas juga dilarang dalam doa. Allah Swt berfirman surah Al A’raf : 55:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Adab dalam berdoa mengajarkan kita untuk tetap rendah hati, tidak berteriak-teriak, dan tidak meminta sesuatu yang mustahil secara akal atau bertentangan dengan kehendak Allah.
Kelima, Melampaui Batas dalam Makan dan Minum
Makan dan minum adalah kebutuhan biologis, namun nafsu sering kali mengubahnya menjadi kerakusan.
Secara filosofis, makan berlebihan adalah bentuk kezaliman terhadap tubuh sendiri dan ketidakpedulian terhadap keadilan sosial bagi mereka yang kekurangan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf : 31
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
Rasulullah Saw memberikan teladan moderasi dengan prinsip: berhenti makan sebelum kenyang. Ini adalah cara menjaga agar raga tetap tangguh untuk memikul amanah ibadah.
Kelima, Melampaui Batas dalam Seksual dan Hak Orang Lain
Seksualitas adalah anugerah yang harus disalurkan melalui jalur yang mulia. Melampaui batas dalam hal ini berarti melakukan perzinaan atau pelanggaran terhadap kehormatan orang lain.
Allah SWT menegaskan keberuntungan orang yang memelihara kemaluannya dalam surah Al-Mu’minuun ayat 7:
فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
Tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
Pelanggaran terhadap batasan ini berhubungan erat dengan hadis tentang orang yang bangkrut (muflis) di akhirat. Mereka yang ibadahnya banyak, namun habis pahalanya karena semasa hidup sering menyakiti, mengambil harta, dan merusak harga diri sesama manusia.
Akhirul kalam, keadilan adalah timbangan Allah di muka bumi, dan menjaga batasan adalah cara kita menjaga timbangan tersebut agar tetap tegak.
Melampaui batas, baik dalam urusan perang, hukum, ibadah, konsumsi, maupun hubungan manusia, hanya akan melahirkan kekacauan.
Dengan tetap berada di jalan tengah, kita tidak hanya menyelamatkan diri kita dari murka Allah, tetapi juga turut menciptakan tatanan dunia yang harmonis dan penuh rahmat. Wallahu a’lamu bish-shawab.
(Moh. As Syakir Hasbullah)



