Al Qur'an

Memahami Masyarakat, Menata Strategi Dakwah

Salafusshalih.com – Manusia tidak bisa hidup sendirian. Kehidupannya hanya bisa berkembang maju dalam hidup bermasyarakat. Manusia yang satu bergantung kepada yang lain. Terkait, risalah mengatur beberapa kaidah dalam usaha menyelesaikan masalah di masyarakat. (Natsir, Fiqhud Da’wah, 1983: 39 dan 44)

Sejak lahir, seseorang telah berada di tengah keluarga. Setelah itu, dia masuk ke lingkungan masyarakat dengan segala warna dan persoalannya. Di dalamnya, ada perbedaan watak, budaya, kepentingan, bahkan pertentangan. Oleh karena itu, dakwah kepada masyarakat bukan pekerjaan sederhana. Aktivitas itu memerlukan ilmu, kesabaran, dan pemahaman yang mendalam tentang manusia.

Natsir dalam buku Fiqhud Da’wah memberi perhatian besar terhadap masyarakat dan persoalannya. Dakwah, menurut beliau, tidak cukup hanya semangat. Dakwah memerlukan pemahaman terhadap realitas kehidupan manusia.

Namun, sebelum berbicara tentang masyarakat, Islam lebih dahulu meminta untuk membenahi niat. Hal ini karena amal sangat tergantung kepada tujuan yang melatarinya. Banyak pekerjaan tampak baik di mata manusia, tetapi kehilangan nilai di sisi Allah karena niat yang salah.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata ‘Kami beriman’, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): ‘Matilah kamu karena kemarahanmu itu’. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (Ali ‘Imran 119).

Ayat di atas mengajarkan agar kaum beriman memiliki kejernihan hati dan ketepatan sikap dalam kehidupan sosial. Jangan sampai amal dan hubungan sosial dibangun di atas kepalsuan, kepentingan sesaat, atau sekadar pencitraan. Dalam dakwah, niat harus lurus yaitu semata-mata mencari rida Allah.

Di hadapan Allah, semua manusia adalah hamba. Tidak ada manusia yang mutlak tinggi. Jabatan, kekayaan, dan popularitas hanyalah titipan sementara. Kesadaran sebagai hamba membuat manusia tidak sombong dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Meski begitu, terhadap manusia, Allah memberi amanah besar sebagai khalifah di bumi. Artinya, manusia memiliki tanggung jawab memakmurkan kehidupan, menjaga keadilan, dan menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, hidup bermasyarakat adalah keniscayaan. Islam tidak mengajarkan hidup menyendiri sambil mengabaikan lingkungan. Seorang Muslim justru dituntut hadir membawa manfaat bagi sesama.

Dalam konteks inilah dakwah menjadi penting. Dakwah bukan hanya ceramah di masjid. Dakwah adalah usaha memperbaiki manusia dan masyarakat agar berjalan sesuai petunjuk Allah.

Sejumlah Prinsip

Agar dakwah berhasil, seorang pendakwah harus memahami kondisi masyarakat.

Pertama, manusia hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Islam memandang perbedaan sebagai kenyataan hidup. Allah menciptakan manusia dengan latar belakang yang beragam. Ada perbedaan bahasa, adat, budaya, dan karakter. Oleh karena itu, dakwah tidak bisa dilakukan dengan pendekatan sembarangan. Dakwah tak bisa seragam metodenya. Tiap kalangan perlu perlakuan yang khusus.

Hal yang pasti, dakwah memerlukan hikmah. Cara berbicara kepada masyarakat desa tentu berbeda dengan masyarakat kota. Pendekatan kepada kaum muda berbeda dengan pendekatan kepada orang tua. Seorang pendakwah harus memahami keadaan umat yang dihadapinya.

Kedua, dasar kehidupan adalah “hidup dan memberi hidup”. Islam tidak menghendaki manusia hidup egois. Kehadiran seorang Muslim semestinya membawa manfaat. Rasulullah Saw. bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Dengan demikian, dakwah bukan hanya mengajak orang salat, tetapi juga menghadirkan kepedulian sosial. Memberi makan orang miskin, membantu yang kesulitan, mendidik generasi muda, dan menjaga lingkungan juga bagian dari dakwah.

Ketiga, infak fisabilillah penting. Masyarakat yang sehat tidak dibangun hanya dengan kata-kata, tetapi juga lewat pengorbanan. Islam mengajarkan infak sebagai wujud solidaritas sosial. Harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Di dalamnya ada hak orang lain.

Perjuangan Islam membutuhkan pengorbanan nyata. Dakwah memerlukan tenaga, waktu, pikiran, dan harta. Orang yang cinta Islam tetapi enggan berkorban akan sulit menghadirkan perubahan besar.

Keempat, sadari bahwa ada hukum yang mengatur masyarakat. Islam bukan agama yang membiarkan kehidupan berjalan tanpa aturan. Dalam masyarakat harus ada hukum yang menjaga keadilan dan ketertiban. Tanpa aturan, yang kuat akan menindas yang lemah.

Oleh karena itu, dakwah juga berarti mengajak masyarakat menghormati nilai keadilan, amanah, dan tanggung jawab. Hukum harus ditegakkan dengan jujur, bukan diperalat demi kepentingan tertentu.

Kelima, wajib melakukan aktivitas menyeru ke jalan Allah. Inilah inti dakwah. Seorang Muslim tidak cukup hanya baik untuk dirinya sendiri. Dia memiliki tanggung jawab moral mengajak manusia menuju kebaikan. Ajakan itu tentu bukan dengan kebencian atau kesombongan. Dakwah harus dilakukan dengan kelembutan, keteladanan, dan kesabaran. Hal ini karena manusia lebih mudah menerima contoh nyata daripada sekadar nasihat panjang.

Keenam, taat kepada ulil amri. Islam mengajarkan pentingnya ketertiban sosial. Selama tidak bertentangan dengan syariat Allah, masyarakat diperintahkan menaati pemimpin. Ketaatan kepada pemimpin yang adil akan menjaga stabilitas dan kemaslahatan bersama. Penting dicatat, Islam tetap menempatkan amar makruf nahi munkar sebagai kewajiban moral.

Tata Niat

Tampak bahwa Islam memandang masyarakat secara utuh. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama. Oleh karena itu, dakwah bukan sekadar menyampaikan ceramah agama. Dakwah adalah usaha membangun masyarakat yang hidup dalam tauhid, keadilan, kepedulian, dan ketertiban.

Semua itu harus dimulai dari niat yang lurus. Hal ini karena amal yang besar sekalipun akan kehilangan cahaya jika tidak bertolak dari keikhlasan kepada Allah. Allahuakbar.

(M. Anwar Djaelani)

Related Articles

Back to top button