Arena Narasi Manipulatif dan Pencarian Spiritualitas Gen Z: TikTok

Salafusshalih.com – Beberapa pekan terakhir, medsos TikTok diramaikan oleh tren unggahan bertuliskan “I’m not God’s favorite son/daughter either.” Kalimat tersebut sekilas tampak seperti candaan khas Generasi Z. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan kegelisahan yang jauh lebih dalam. Banyak pengguna memanfaatkan tren tersebut untuk mengungkapkan perasaan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan: doa yang terasa belum dikabulkan, kehilangan kekhusyukan dalam ibadah, merasa jauh dari Allah, hingga mempertanyakan makna ujian yang sedang dihadapi.
Menariknya, fenomena tersebut tidak berhenti sebagai ekspresi personal. Kolom komentar justru berubah menjadi ruang percakapan yang dipenuhi doa, penguatan, pengingat untuk bersabar, kutipan ayat Al-Qur’an, hadis, hingga pengalaman pribadi tentang bagaimana mereka berhasil melewati fase-fase sulit dalam kehidupan spiritual. Fenomena ini memperlihatkan bahwa di tengah citra TikTok sebagai ruang hiburan yang serba cepat, platform digital juga dapat berfungsi sebagai ruang lahirnya dukungan spiritual antar sesama pengguna.
Gen Z dan TikTok
Ada perubahan penting dalam cara Generasi Z membangun pengalaman keberagamaannya. Jika sebelumnya ruang pencarian makna banyak ditemukan melalui keluarga, majelis taklim, sekolah, atau komunitas keagamaan, kini sebagian proses tersebut mulai bergeser ke ruang digital. TikTok bukan lagi sekadar media hiburan, melainkan ruang tempat anak muda bertanya, mencari jawaban, berbagi pengalaman, sekaligus membangun makna atas pengalaman spiritual yang mereka alami.
Perubahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari tingginya intensitas penggunaan internet di Indonesia. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2024), internet telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama kelompok usia muda. Bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan digital (digital natives), medsos terutama TikTok telah menjadi bagian dari proses belajar, membentuk identitas diri, hingga mencari validasi sosial. Dalam konteks inilah persoalan spiritual pun ikut bermigrasi ke ruang digital.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui perspektif psikologi agama. Kenneth I. Pargament (2007) memperkenalkan konsep spiritual struggle, yakni kondisi ketika seseorang mengalami pergulatan batin dalam relasinya dengan Tuhan. Pergulatan tersebut dapat muncul ketika seseorang menghadapi kehilangan, kegagalan, tekanan hidup, atau harapan yang belum terwujud sehingga memunculkan pertanyaan mengenai makna doa, keadilan Tuhan, maupun kualitas ibadahnya sendiri. Kondisi tersebut bukanlah tanda lemahnya keimanan, melainkan bagian dari dinamika psikologis dan spiritual yang dapat dialami oleh setiap individu.
Dalam fase seperti ini, manusia sering kali tidak langsung membutuhkan jawaban teologis yang kompleks. Yang lebih dibutuhkan adalah kehadiran orang lain yang mampu memahami perasaannya. Rasa dipahami (feeling understood) menjadi kebutuhan psikologis yang sangat penting sebelum seseorang mampu menerima nasihat maupun solusi. Di sinilah medsos menemukan perannya. Melalui unggahan dan kolom komentar, individu yang sebelumnya merasa sendirian dapat menemukan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa sehingga muncul rasa kebersamaan dalam menghadapi pergulatan spiritual.
Kondisi tersebut dikenal sebagai online social support. Naslund dkk. (2016) menjelaskan bahwa interaksi di ruang digital memungkinkan individu memperoleh dukungan emosional, informasi, maupun rasa memiliki dari komunitas virtual. Berbeda dengan anggapan bahwa medsos selalu memperburuk kesehatan mental, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa pada kondisi tertentu medsos mampu menjadi ruang pemulihan psikologis ketika digunakan untuk saling menguatkan.
Temuan tersebut juga sejalan dengan penelitian Sekar Kinanthi dan Rohmadani (2025) yang menunjukkan bahwa penggunaan TikTok memiliki hubungan dengan religiusitas Generasi Z melalui interaksi sosial yang terbentuk di dalam platform tersebut. Artinya, medsos bukan hanya menjadi tempat konsumsi konten keagamaan, tetapi juga menjadi ruang terbentuknya pengalaman religius yang bersifat kolektif.
Namun, di balik potensi positif tersebut terdapat sisi lain yang tidak boleh diabaikan. Ruang digital pada hakikatnya merupakan arena kontestasi berbagai narasi. Algoritma TikTok bekerja berdasarkan perhatian (attention economy), bukan berdasarkan kualitas atau validitas suatu informasi. Semakin lama seseorang berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin besar kemungkinan algoritma merekomendasikan konten yang serupa. Dalam konteks keagamaan, kondisi ini dapat menciptakan ruang gema (echo chamber) yang membuat pengguna terus menerus menerima sudut pandang yang sama tanpa memperoleh perspektif yang lebih berimbang.
Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Generasi Z yang sedang berada dalam fase pencarian identitas, termasuk identitas keberagamaannya. Orang yang sedang mengalami spiritual struggle cenderung terbuka terhadap berbagai narasi yang menawarkan ketenangan atau jawaban instan atas persoalan hidupnya. Jadi di satu sisi terdapat narasi keagamaan yang menyejukkan, moderat, dan mendorong refleksi diri. Di sisi lain, terdapat pula narasi yang bersifat simplistis, eksklusif, bahkan manipulatif, yang memanfaatkan kegelisahan spiritual sebagai pintu masuk untuk membangun cara pandang yang sempit terhadap agama.
Karena itu, persoalan utama bukan terletak pada platform TikTok itu sendiri, melainkan pada kualitas narasi yang beredar di dalamnya. Teknologi pada dasarnya bersifat netral. Yang menentukan arah pengaruhnya adalah bagaimana manusia memanfaatkan teknologi tersebut. Ruang yang sama dapat digunakan untuk menyebarkan nilai kasih sayang, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk membangun polarisasi, menyebarkan disinformasi, atau mengeksploitasi emosi pengguna.
Manipulasi Medsos
Dalam perspektif Islam, dinamika keimanan merupakan bagian dari fitrah manusia. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang seiring perjalanan hidup seseorang. Perasaan jauh dari Allah, kehilangan ketenangan hati, atau merasa doa belum dikabulkan bukanlah alasan untuk berputus asa. Allah SWT justru menegaskan dalam QS. Az-Zumar ayat 53 agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya, karena pintu ampunan dan kasih sayang Allah senantiasa terbuka.
Rasulullah juga mengingatkan agar seorang hamba tidak tergesa-gesa dalam berdoa hingga berkata bahwa doanya tidak dikabulkan (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan tersebut menunjukkan bahwa kualitas hubungan dengan Allah tidak selalu diukur dari cepat atau lambatnya jawaban atas doa, melainkan dari kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan dalam menjaga ikhtiar spiritual.
Medsos tidak semestinya diposisikan sebagai pengganti proses pembelajaran agama yang otoritatif. Pendampingan keluarga, guru, ulama, serta komunitas keagamaan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun pemahaman keislaman yang utuh. Di sisi lain, kemampuan literasi digital dan literasi keagamaan juga perlu diperkuat agar Gen Z mampu memilah informasi, mengenali narasi yang manipulatif, serta memahami bahwa popularitas sebuah konten tidak selalu berbanding lurus dengan kebenaran substansinya.
Fenomena “I’m not God’s favorite son/daughter either” memperlihatkan bahwa di balik derasnya arus konten hiburan, masih banyak anak muda yang sedang mencari makna, ketenangan, dan kedekatan dengan Allah. Mereka bukan sekadar pengguna medsos, melainkan individu yang sedang berproses dalam perjalanan spiritualnya. TikTok dapat menjadi ruang yang mempertemukan mereka dengan empati dan harapan, tetapi juga dapat menjadi arena tempat berbagai narasi saling berebut memengaruhi cara pandang keberagamaan mereka.
Karena itu, tantangan terbesar bukanlah menjauhkan Gen Z dari medsos, melainkan memastikan bahwa ruang digital dipenuhi oleh narasi keagamaan yang otentik, moderat, mencerahkan, dan mampu menguatkan iman di tengah derasnya arus informasi digital.
Fenomena tersebut juga memperlihatkan bahwa yang sedang diperebutkan di ruang digital bukan sekadar perhatian (attention), tetapi juga otoritas keagamaan. Jika pada masa lalu otoritas keagamaan banyak bertumpu pada ulama, lembaga pendidikan Islam, dan majelis taklim, kini medsos memungkinkan siapa pun berbicara atas nama agama dan memperoleh legitimasi melalui jumlah penonton, tanda suka, komentar, maupun jumlah pengikut. Dalam ekosistem seperti ini, algoritma sering kali lebih menentukan siapa yang didengar daripada kedalaman keilmuan yang dimiliki pembuat konten. Akibatnya, popularitas kerap dipersepsikan sebagai kredibilitas, padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan.
Di sisi lain, karakteristik Gen Z sebagai digital natives membuat proses pencarian jawaban atas persoalan hidup berlangsung secara instan. Ketika mengalami kegelisahan spiritual, langkah pertama yang dilakukan tidak sedikit di antaranya adalah membuka kolom pencarian TikTok, bukan bertanya kepada guru, orang tua, atau tokoh agama. Pergeseran ini menunjukkan bahwa medsos telah berubah fungsi dari sekadar ruang berbagi informasi menjadi ruang konsultasi informal yang membentuk cara berpikir, cara memaknai agama, bahkan cara mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Di situ ada peluang sekaligus tantangan. Peluangnya, ruang digital dapat menjadi medium dakwah yang lebih dekat dengan bahasa, budaya, dan pengalaman hidup Gen Z. Namun tantangannya jauh lebih besar, karena ruang yang sama juga terbuka bagi narasi keagamaan yang bersifat simplistis, emosional, eksklusif, bahkan manipulatif. Narasi seperti ini umumnya tidak hadir melalui ajakan yang frontal, melainkan dibungkus dalam bentuk motivasi, kisah hijrah, potongan ceramah, atau konten reflektif yang mudah diterima oleh pengguna yang sedang mengalami kegelisahan batin. Membangun ketahanan spiritual Gen Z memerlukan hadirnya narasi keagamaan yang kredibel, inklusif, dan mampu menjawab persoalan hidup secara utuh.
Dalam konteks tersebut, upaya kontra-radikalisasi di ruang digital tidak selalu harus diwujudkan melalui kampanye yang secara eksplisit berbicara tentang ekstremisme. Salah satu bentuk pencegahan yang lebih mendasar adalah memperkuat ekosistem narasi keagamaan yang sehat, menghadirkan ruang dialog yang empatik, serta mendampingi Gen Z agar mampu mengelola pergulatan spiritualnya tanpa terjebak pada jawaban-jawaban instan yang menyesatkan. Ketika ruang digital dipenuhi oleh narasi yang menumbuhkan harapan, kasih sayang, dan pemahaman agama yang moderat, maka ruang gerak bagi narasi manipulatif akan semakin menyempit.
Fenomena “I’m not God’s favorite son/daughter either” bukan sekadar tren yang akan berlalu bersama bergantinya algoritma. Fenomena tersebut merupakan potret bagaimana Gen Z sedang mencari makna, tempat bersandar, dan jawaban atas kegelisahan spiritualnya di ruang digital. Di titik inilah TikTok menjadi arena perebutan narasi: apakah kegelisahan itu akan dijawab oleh empati, ilmu, dan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, atau justru dimanfaatkan oleh narasi-narasi manipulatif yang menawarkan kepastian semu.
Karena itu, tantangan kita bukan sekadar meningkatkan literasi digital, melainkan juga membangun literasi spiritual yang mampu menjadikan medsos sebagai ruang penguatan iman, bukan ruang yang mengeksploitasi kegelisahan manusia. Ketika keduanya berjalan beriringan, teknologi tidak lagi dipandang sebagai ancaman bagi kehidupan beragama, melainkan sebagai instrumen strategis untuk menghadirkan dakwah yang lebih membumi, lebih relevan, dan lebih mampu menjangkau generasi digital.
(Dini Fika Kamalia)



