Mungkinkah Aksi Teror di Kohat Sinyal Insurgensi Terorisme?

Salafusshalih.com – Pada Jumat (18/9) kemarin, sebuah kendaraan bermuatan bahan peledak menghantam kawasan Old Police Lines di Kohat, Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, ketika polisi dan anggota keluarga mereka berkumpul untuk salat Jumat di masjid kompleks tersebut. Ketika dinding dan perimeter rusak akibat ledakan, sekelompok penyerang bersenjata menerobos masuk. Tembakan dan granat menyusul. Kompleks kepolisian yang semula merupakan tempat ibadah berubah jadi medan pertempuran yang baru benar-benar dapat dibersihkan sekitar 20-21 jam kemudian.
Angka korban berubah seiring operasi berlangsung. Laporan awal Reuters mencatat sedikitnya 16 orang tewas dan 57 terluka. Setelah operasi pembersihan selesai, polisi dan Counter-Terrorism Department (CTD) Khyber Pakhtunkhwa mencatat 23 orang tewas: 17 polisi dan enam warga sipil, dan lebih dari 100 orang terluka. Delapan penyerang akhirnya tewas. Perbedaan angka pada jam-jam pertama serangan bukan sesuatu yang ganjil dalam operasi sepanjang itu; korban ditemukan, dievakuasi, dan diverifikasi ketika kontak senjata masih berlangsung.
Temuan penyelidikan awal kemudian membuat peristiwa di Kohat lebih menarik daripada sekadar bom bunuh diri. Para penyerang, menurut tim investigasi yang dikutip The Express Tribune, memang merancang pengepungan. Mereka membawa granat, senapan runduk, serta bahan peledak. Tujuh orang bersenjata disebut masuk setelah ledakan awal dan bergerak menuju bangunan-bangunan penting. Maksudnya diduga bukan sekadar membunuh sebanyak mungkin orang dalam beberapa menit, melainkan bertahan di dalam kompleks dan memperpanjang pertempuran selama mungkin.
Itulah mengapa aksi teror di Kohat perlu dibaca lebih jauh. Dunia kontra-terorisme beberapa tahun terakhir banyak disibukkan oleh lone actor, radikalisasi online, dan serangan berteknologi sederhana. Semua itu nyata. Tetapi Kohat seperti membawa kembali sebuah pesan lama: kelompok teror belum kehilangan tajinya. Mereka masih mampu menggabungkan manusia, bahan peledak, senjata, pengintaian, pembagian peran, dan pemilihan sasaran ke dalam operasi yang terkoordinasi.
Anatominya jelas seperti Al Qaeda dan ISIS di awal 2000-an. Ledakan kendaraan berfungsi menghancurkan pertahanan awal dan menciptakan kekacauan. Penyerang bersenjata memanfaatkan kekacauan itu untuk melakukan penetrasi. Granat dan tembakan menahan aparat sekaligus memperluas ruang gerak. Setelah berada di dalam, sebagian penyerang bergerak menuju fasilitas penting. Aparat akhirnya harus mengerahkan polisi, CTD, dan pasukan elite untuk merebut kembali kompleks tersebut.
Bom dijadikan bagian dari rangkaian. Pola semacam itu lazim disebut complex attack: beberapa metode kekerasan digunakan secara berurutan atau bersamaan untuk memperbesar kerusakan dan mempertahankan momentum serangan.
Semakin lama kelompok teror disterilkan, semakin lama pula mereka mengendalikan narasi. Berita terus bergerak. Video tersebar. Spekulasi berkembang. Aparat terlihat bertempur mempertahankan fasilitasnya sendiri. Bagi semua kelompok teror, satu serangan berjam-jam akan menghasilkan dampak psikologis yang melampaui radius ledakan. Mereka merasa mempunyai kendali.
Pemilihan Kohat Police Lines memperlihatkan kalkulasi tersebut. Kompleks itu menampung sejumlah unsur keamanan, termasuk kantor CTD itu sendiri. Serangan dilakukan ketika salat Jumat menciptakan konsentrasi manusia di masjid kompleks. Karena itu, melihatnya semata sebagai ‘bom masjid’ akan menghilangkan konteks strategis yang penting. Para korban memang sedang beribadah, tetapi sasaran yang diterobos adalah jantung infrastruktur kepolisian setempat.
Polisi juga bukan target acak dalam lanskap militansi Pakistan. Di Khyber Pakhtunkhwa, aparat berada di garis depan menghadapi kelompok-kelompok bersenjata di wilayah dengan sejarah panjang insurgensi dan militansi lintas perbatasan. Menyerang polisi mempunyai dua fungsi sekaligus: menghilangkan personel yang memburu jaringan teroris dan merusak persepsi bahwa negara mampu melindungi institusi keamanannya sendiri.
Kebangkitan Networked Terrorism?
Pertanyaan yang relatif krusial saat ini adalah bagaimana operasi semacam itu masih mungkin dilakukan pada 2026. Apakah cukup bukti untuk mengatakan bahwa itu merupakan bukti insurgensi terorisme? Serangan Kohat membutuhkan sesuatu yang tidak dimiliki seorang lone actor: para manusia militan dan terampil yang siap mati kapan saja. Seseorang harus memperoleh kendaraan dan bahan peledak. Ada orang yang mengetahui cara merakit atau memperoleh bom dalam jumlah yang mampu merusak perimeter. Senjata dan granat harus tersedia. Kompleks.
Tidak semua unsur tersebut harus berasal dari organisasi hierarkis dengan struktur komando yang kaku. Jaringan modern dapat jauh lebih cair. Namun semakin kompleks sebuah operasi, semakin banyak titik koordinasi yang diperlukan. Dan setiap titik koordinasi menunjukkan keberadaan kapasitas, sesuatu yang jauh lebih penting dalam membaca ancaman terorisme daripada sekadar menghitung berapa banyak nama organisasi yang masih tercantum dalam daftar kelompok terlarang.
Inilah yang sering luput ketika kita berbicara tentang melemah atau menguatnya terorisme. Sebuah organisasi dapat kehilangan pemimpin tetapi mempertahankan ahli bom. Ia dapat kehilangan wilayah tetapi mempertahankan jalur logistik. Ia dapat terfragmentasi menjadi beberapa faksi tetapi orang-orang di dalamnya masih membawa pengetahuan, hubungan, pengalaman tempur, serta akses kepada senjata. Struktur dapat pecah, sementara kapabilitas berpindah tangan.
Atribusi Kohat sendiri menunjukkan betapa cairnya lanskap itu. Pada hari serangan, Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) secara terbuka membantah keterlibatan. Penyelidikan dan pemberitaan berikutnya memunculkan klaim tanggung jawab Ittihad-ul-Mujahideen Pakistan (IMP), yang dipimpin Hafiz Gul Bahadur yang berbasis di Afghanistan. Sementara itu, FIR kepolisian menggunakan atribusi kepada unsur TTP yang oleh otoritas Pakistan disebut Fitna al-Khawarij. Perbedaan tersebut belum layak diselesaikan dengan tebakan. Investigasi mengenai pelaku, fasilitator, pasokan senjata dan bahan peledak, serta kemungkinan hubungan lintas perbatasan masih berjalan.
Justru ketidakjelasan itu mengandung pelajaran. Dalam ekosistem militansi yang terfragmentasi, nama kelompok teroris tidak selalu menjelaskan keseluruhan jaringan operasional. Faksi pecah, aliansi berubah, personel berpindah, klaim serangan dapat mempunyai kepentingan propaganda, sedangkan negara mempunyai terminologi sendiri untuk mengelompokkan musuhnya. Terlalu tergesa menempelkan satu nama dapat membuat analisis berhenti pada ‘siapa’, padahal pertanyaan yang tak kalah pentingnya adalah ‘dengan kemampuan apa’ dan ‘melalui jaringan mana’.
Pakistan merupakan laboratorium keras bagi persoalan tersebut. Pemerintah Islamabad berulang kali menuduh kelompok militan memperoleh ruang berlindung di Afghanistan setelah Taliban kembali berkuasa di Kabul. Pemerintah Taliban Afghanistan menyangkal wilayahnya digunakan untuk menyerang Pakistan. Dalam kasus Kohat, aparat Pakistan juga menyatakan sedang memeriksa kemungkinan hubungan Afghanistan, tetapi identifikasi dan penyelidikan belum selesai.
Karena itu, Kohat sebaiknya tidak buru-buru dibaca sebagai bukti kebangkitan satu organisasi tertentu. Yang lebih dapat dipertanggungjawabkan adalah membaca ketahanan sebuah ekosistem militansi. Jika delapan orang dapat dipersenjatai, sebuah kendaraan dapat diisi bahan peledak, sasaran keamanan dapat dipelajari, dan operasi berlapis dapat diluncurkan, berarti ada mata rantai yang masih bekerja sebelum para pelaku tiba di gerbang Police Lines.
Mata rantai itulah jantung networked terrorism. Teroris yang terlihat di lokasi hanyalah ujung paling kasatmata. Di belakangnya mungkin terdapat fasilitator, penyedia senjata, pembuat bom, penyandang dana, penghubung, pengintai, rumah aman, atau simpatisan yang menyediakan logistik. Tidak semuanya harus mengetahui keseluruhan rencana. Justru jaringan yang matang sering bertahan karena informasi terkompartementasi: seseorang cukup mengetahui tugasnya sendiri.
Hal ini menjelaskan mengapa networked terrorism tetap menarik bagi kelompok yang mempunyai sumber daya. Serangan individual murah dan sulit dideteksi, tetapi mempunyai keterbatasan. Seorang pelaku membawa kemampuan satu orang. Jaringan dapat menggabungkan spesialisasi. Satu orang memahami bahan peledak, yang lain mengenali sasaran, yang lain memperoleh kendaraan, yang lain bertempur. Organisasi mengubah kemampuan individual menjadi kapasitas kolektif.
Harga yang harus dibayar memang besar. Semakin banyak orang terlibat, semakin besar jejak yang dapat dideteksi intelijen. Komunikasi, perjalanan, transaksi, pengadaan bahan, dan pertemuan menciptakan peluang intersepsi. Itulah sebabnya banyak jaringan teroris beralih kepada operasi sederhana atau mendorong simpatisan bertindak sendiri. Tetapi Kohat menunjukkan bahwa ketika sebuah ekosistem masih menyediakan ruang, logistik, dan personel, kelompok teror tetap memiliki insentif menjalankan operasi kompleks karena efeknya juga jauh lebih besar.
Kembang Kempis Aksi Teror
Ada aspek lain yang menarik. Investigasi awal menyebut penggunaan teknologi drone oleh aparat membantu memantau pergerakan penyerang selama operasi. Artinya, evolusi terorisme berjejaring berlangsung bersamaan dengan evolusi respons negara. Teroris dapat membawa pola serangan yang sudah dikenal selama puluhan tahun, tetapi mereka berhadapan dengan pengawasan udara, komunikasi yang lebih cepat, unit khusus, dan kemampuan pemetaan medan yang lebih baik.
Fakta bahwa rencana pengepungan diduga tidak berjalan sepenuhnya seperti yang diinginkan penyerang juga penting. Polisi mempertahankan posisi meski mengalami korban dan tembakan berat sehingga para penyerang gagal memperluas penguasaan mereka. Semua delapan pelaku akhirnya tewas. Dari perspektif operasional, karena itu Kohat tidak bisa begitu saja disebut keberhasilan penuh penyerang. Mereka berhasil menimbulkan korban besar dan menembus kompleks, tetapi gagal mempertahankan ruang sebagaimana diduga direncanakan.
Perbedaan itu penting dalam analisis terorisme. Mengukur serangan hanya dari jumlah korban membuat kita kehilangan kemampuan memahami tujuan operasional. Sebuah serangan dapat mematikan tetapi gagal mencapai sasaran taktis tertentu. Sebaliknya, serangan dengan korban lebih sedikit dapat sangat berhasil jika tujuannya menciptakan ketakutan, memperoleh publisitas, atau menunjukkan bahwa target bernilai tinggi dapat ditembus.
Kohat memberikan keduanya: kerusakan besar sekaligus demonstrasi kemampuan penetrasi. Tetapi respons aparat juga menunjukkan batas kemampuan penyerang. Di antara dua fakta itulah penilaian ancaman seharusnya dibuat, bukan melalui propaganda kelompok militan dan bukan pula melalui klaim kemenangan negara.
Bagi Indonesia, pelajarannya harus diambil secara proporsional. Kita tidak memiliki geografi konflik, dinamika perbatasan, ataupun ekosistem persenjataan yang sama dengan Pakistan. Mengimpor skenario Kohat mentah-mentah ke Indonesia hanya menghasilkan alarmisme. Tetapi ada satu pelajaran yang bersifat universal: jangan mengukur matinya terorisme dari hilangnya satu organisasi atau berkurangnya satu jenis serangan. Ukurlah juga apakah kemampuan yang memungkinkan serangan itu masih mempunyai tempat untuk bertahan dan diwariskan.
Indonesia mempunyai pengalaman panjang menghadapi persoalan tersebut. Setelah tokoh ditangkap atau organisasi terpukul, pengetahuan tidak otomatis ikut masuk penjara. Keahlian, relasi sosial, pengalaman konflik, dan ingatan operasional dapat berpindah kepada lingkaran berikutnya. Karena itu, penegakan hukum yang berhasil memotong struktur harus selalu diikuti kemampuan membaca ke mana manusia, pengetahuan, dan jaringan sosialnya bergerak.
Kohat akhirnya membawa kita kepada paradoks terorisme kontemporer. Pada satu sisi, ancaman bergerak menuju individu: lone actor, radikalisasi daring, komunitas cair, dan kekerasan tanpa komando. Pada sisi lain, delapan orang bersenjata masih dapat mencoba menduduki kompleks kepolisian setelah sebuah kendaraan penuh bahan peledak membuka jalan bagi mereka.
Keduanya bukan kontradiksi. Terorisme tidak mengganti wajah lama dengan wajah baru. Ia menambah wajah. Itulah sebabnya Kohat penting dibaca jauh melampaui Pakistan. Serangan tersebut mengingatkan bahwa teknologi kekerasan yang dianggap “lama”—bom bunuh diri, penetrasi bersenjata, granat, penembak runduk, serangan terhadap instalasi keamanan—belum menjadi artefak sejarah. Selama jaringan manusia yang menopangnya masih dapat bertahan, metode lama dapat kembali digunakan ketika kesempatan tersedia.
Dan mungkin itulah kesalahan paling mudah dilakukan setelah bertahun-tahun berhasil menekan sebuah jaringan: kita melihat organisasi mengecil lalu menganggap kemampuan ikut mengecil; melihat serangan berhenti lalu menganggap pengetahuan telah hilang; melihat generasi pemimpin tertangkap lalu mengira generasi berikutnya tidak sedang belajar.
Kohat memberi peringatan yang relatif sederhana. Kelompok terorisme tidak mesti selalu menyerang untuk tetap hidup, hanya butuh cukup banyak manusia, pengetahuan, logistik, dan ruang untuk mempertahankan kemampuan menyerang. Ketika seluruh unsur itu kembali bertemu pada satu waktu dan satu tempat, yang kita dengar kemudian hanyalah ledakannya. Bukannya seperti itu bom-bom merebak dua dekade lalu? Memang seperti itu cara kerja terorisme: mengembang dan mengempis setiap waktu. Insurgensi terorisme tidak pernah terang-terangan, namun sinyalnya mudah untuk kita baca.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…
(Ahmad Khoiri)


