Mujadalah

Berjilbab Tapi Pamer Aurat, Khianati Iman Demi Modis

Salafusshalih.com – Jilbab adalah keharusan bagi wanita Muslim. Tapi dalam dua dekade terakhir, terutama di banyak kota di Indonesia, pemakaian jilbab telah disalahgunakan.

Bahkan hingga sejumlah pekerja seks komersial (PSK) pun kerap muncul berjilbab (maaf) di media sosial semacam Mi Chat (Mai Cet), untuk mencari pelanggan, kendati identitas sah agamanya sendiri , meragukan.

Dalam soal fesyen, jilbab kerap dikombinasikan dengan busana serba modern ala Barat. Di mal-mal, misalnya, tak sedikit wanita mengenakan jilbab, tapi mengumbar ukuran (maaf) buah dada, dan keseksian pinggulnya, yang dibalut celana blue jins ketat.

Jika si wanita berjilbab ini membungkukkan tubuh, entah disengaja atau tidak, maka yang pasti, biji mata lelaki normal, bakal terbelalak hingga ‘nyaris lepas’.

Ini karena kerap mereka melihat seperempat bokong si wanita, yang menyembul seksi dari celana panjang denim ketat. Inilah fenomena yang dinamakan ‘Jilboobs’, yang muncul hampir dua dekade terakhir di Indonesia.

Fenomena ini mencolok di wilayah perkotaan, yang tega menjadikan asesoris busana yang suci bagi umat Muslim ini telah dicemarkan , dan…dengan sengaja oleh sekelompok umat itu sendiri.

Menjadi pemandangan yang ‘biasa’ di Tanah Air, ironisnya, fenomena ini sejak 2019, mulai juga mewabah di antara tak sedikit wanita Muslim di Kerajaan Arab Saudi.

Padahal, Islam telah mengajarkan berbagai aturan yang mengatur norma dan etika bagi para penganutnya, termasuk untuk wanita Muslim atau muslimah.

Apalagi, dilansir daru NU Online, salah satu ciri wanita yang bisa dikatakan mampu menjadi penghuni surga, adakah wanita yang pandai menjaga kehormatan dirinya.

Dengan demikian, tolak ukur kemuliaan seorang wanita muslimah dapat dilihat dari bagaimana dia menjaga kehormatan dirinya. Baik dari cara dia berbusana, bertutur kata, berjalan, dan sebagainya.

Seorang wanita Muslim itu harus memakai jilbab, tidak keluar selain dengan mahramnya, tidak melembutkan ucapan di hadapan orang fasik, dan tidak berlebihan dalam menghias diri seperti kaum jahiliyah.

Hukum Allah Tegas dan Jelas: Pakai Jilbab!

Sudah selayaknya sebagai seorang muslimah tidak menganggap hal itu sebagai sebuah beban. Tetapi, itu menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukannya.

Mengenai kewajiban berjilbab atau menutup aurat bagi wanita, Allah SWT telah menerangkannya dalam Alquran Surat Al-Ahzab ayat 59, yang artinya:

“Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”

Firman Allah ini sudah jelas dan tegas menyerukan setiap wanita yang mengaku muslimah yang beriman harus mengenakan jilbab.

Allah SWT juga memberikan jaminan bagi wanita beriman yang berjilbab. Mereka akan lebih aman dari gangguan pandangan orang-orang nakal, dibandingkan dengan mereka yang biasa memakai pakaian mini dan terbuka auratnya.

Sayangnya, saat ini wanita Muslim yang berjilbab tidak memakai jilbabnya dengan benar sesuai dengan yang diperintahkan Allah dalam Alquran.

Mereka memakai jilbab tapi masih memperlihatkan lekuk tubuhnya. Istilah wanita berjilbab tapi tidak sesuai dengan aturan agama ini disebut dengan jilboobs.

Jilboobs diadopsi dari gabungan kata ‘jilbab’ (yang artinya kerudung/penutup kepala), dan boobs (payudara).

Maksudnya, jilbab yang mereka pakai tidak difungsikan sebagai penutup aurat, melainkan hanya pembungkus sebagian tubuh saja.

Padahal, jilbab, yang berasal dari bahasa Arab ‘jalbaba, yujalbibu, jilbaaban’, memiliki arti ‘baju kurung yang panjang’. Jadi, jilbab adalah pakaian yang lebar dan panjang yang menutup anggota tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Mengapa harus tertutup semuanya kecuali wajah dan telapak tangan? Karena pada dasarnya, seluruh anggota tubuh wanita itu adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan.

Namun dalam kenyataannya, banyak sekali muslimah zaman sekarang yang menyimpang dari aturan memakai jilbab sesuai dengan arti jilbab itu sendiri.

Gaya berjilbab mereka telah terkontaminasi oleh budaya baru: Lebih bangga mengikuti tren yang sebenarnya tidak sesuai dengan Syariat Islam.

Padahal, memakai jilbab itu mengandung nilai ibadah tersendiri. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada hukum Allah, memakai jilbab dan menutup aurat merupakan tindakan preventif dari pandangan mata lelaki yang menyimpang dari ajaran agama.

Jadi, seorang muslimah seharusnya tidak mengenakan busana ala ‘Jilboobs’, karena bisa menjadi pintu gerbang terjadinya perzinahan.

Karena itu, kewajiban mengenakan jilbab tanpa kontaminasi ‘Jilboobs’, merupakan ajaran Islam yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh wanita Muslim.

Selain berjilbab, wanita muslimah juga harus mengenakan busana yang memenuhi kriteria busana syariah yaitu longgar, dapat menutupi aurat dan tidak transparan.

Intinya, wanita muslimah dilarang untuk memamerkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada mahram dan suaminya.

Problematika Jilbab selama Pilpres 2019

Peristiwa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 membawa berbagai kenangan dan problematikanya sendiri. Termasuk fenomena menarik adalah kehadiran ‘jilbabers’ dalam diskursus politik Indonesia.

Hal ini juga terungkap dalam dalam sebuah artikel di Islami, yang ditulis secara kolaboratif oleh Heru Harjo Hutomo (penulis, peneliti lepas, perupa, dan pemusik), dan Ajeng Dewanthi (peneliti sosial dan sejarah)

Menurut pengamatan keduanya yang paling menyita perhatian adalah jilbabers yang kebanyakan berasal dari barisan pendukung Prabowo-Sandi.

Berbagai sepak-terjang kelompok ini sering membuat geleng-geleng kepala, sebab jauh dari apa yang dibayangkan dari penggunaan jilbab sebagaimana mestinya.

Sepak-terjang jilbabers yang berlebihan ini, tak hanya muncul dalam berbagai rekaman video yang cukup mudah dijumpai di YouTube, dan media-media sosial lainnya. Berbagai akun media sosial milik perempuan-perempuan berjilbab rasanya jauh dari nuansa kepatutan.

Jilbab, yang seharusnya mencitrakan pemakainya sebagai seorang perempuan yang beradab, lewat fenomena tersebut justru hanya memperlihatkan ‘kecantikan’ fisik semata, tak pernah pada kedalaman jiwa.

Citra perempuan solehah pun—sebagaimana yang selama ini mereka goreng—luntur. Banyak dari akun tersebut, memamerkan berbagai sikap sebagaimana yang seharusnya.

Komentar-komentar bernada merendahkan dan menghina cukup berserakan di dinding akun mereka.

Melalui fenomena jilbabers tersebut, radikalisme keagamaan merasuk dan menguat.

“Dengan kesadaran sebagai liyan yang tak berjilbab, perasaan kami untuk menjadi setara dengan mereka yang berjilbab pun sirna sudah,” tulis keduanya.

“Perasaan itu muncul bukan karena kami berbeda agama, tapi karena image kesucian dan pola interaksi yang muncul dari simbol jilbab yang mereka kenakan,” lanjut tulisan tersebut.

Jilbab dan Golongan Kelas Menengah

Hubungan Jilbab dan kelas menengah sangatlah unik. Mereka adalah kelas para pegawai baik swasta maupun pemerintahan yang memiliki gaji antara tiga sampai 10 juta perbulan.

Selain menjadi pegawai, perempuan kelas menengah berasal pula dari kalangan eksekutif dan wiraswastawati.

Di berbagai wilayah Indonesia, dari pedesaan hingga kota-kota metropolitan, ragam corak dan gaya berjilbab mewarnai kehidupan banyak muslimah.

Dari mereka yang hanya sekedar memanfaatkannya sebagai penutup kepala, dengan terusan yang kasual, hingga yang menutup setengah badan (syar’i).

Para jilbabers hari ini tidak dapat melepaskan diri dari jilbab sebagai fesyen.

Bahkan, mereka sering berusaha untuk meng-update fesyen mereka setiap minggu atau bulan, hanya untuk sekedar tampil segar, dan selalu baru (gaul) saat datang ke pengajian mingguan atau bulanan.

Tak hanya di pengajian, tapi juga tampil ‘baru’ saat mereka bertemu kawan ‘sosialita’ di cafe, arisan, kantor, ataupun warung. Dengan kata lain, mereka berusaha menciptakan kehidupan keseharian mereka sebagai catwalk harian.

Golongan kelas menengah merupakan kelas dengan hasrat konsumtif yang tinggi. Mereka membelanjakan sebelas persen dari penghasilannya untuk belanja pakaian setiap bulan.

Mereka adalah kelompok sosialita berjilbab yang biasa berkumpul di mal, kafe atau tempat nongkrong lainnya, padahal isi pembicaraan mereka terkadang jauh dari esensi keagamaan.

Saat mereka berkumpul, kelompok sosialita tersebut umumnya membicarakan berbagai isu, dari kehidupan privat, masalah rumah tangga, sampai dengan pembicaraan ala kadarnya.

Pola interaksi tersebut menjadi warna tersendiri bagi para ‘jilbabers’ dari kota besar sampai kota kecil setingkat kecamatan.

Melalui berbagai pertemuan itu, mereka seolah-olah ingin memperlihatkan bahwa diri mereka itu penting: “Kami adalah Islam dari kalangan kelas menengah, tidak miskin.”

Dengan berdandan jilbab milenial yang modis, mereka seolah juga ingin memperlihatkan identitas mereka di ruang publik, bahwa mereka adalah pribadi Islam yang sebenarnya.

Secara getol mereka berupaya untuk mematahkan stigma bahwa menjadi muslimah tak berarti harus kuno, tak bisa mengikuti perkembangan zaman.

Para jilbabers kelas menengah membangun identitas egosentris mereka dari imaji kesucian dan kepenuhan beragama (kaffah). Jilbab menjadi semacam pembuktian kadar keagamaan mereka.

“Pertanyaannya kemudian, apakah hanya dengan menggunakan atribut keagamaan dapat mencerminkan kedalaman beragama mengingat hampir sebagian jilbabers adalah kelompok sosialita yang sering berkumpul di ruang-ruang publik hanya sekedar untuk ngerumpi?” tulis keduanya di Islami.

Karakter dari kelompok ini dapat dikenali dari sikap dan pola interaksi mereka. Justru jilbabers kelas menengah memiliki karakter yang cenderung agresif, bossy, angkuh, dan cepat untuk menghakimi.

Mereka seolah ingin menunjukan kepada liyan bahwa mereka adalah ‘ratu’ yang berkuasa (the drama queen). Dengan kata lain, mereka seolah-olah ingin bersikap sebagai pemegang kontrol keadaan di sekitar mereka.

Bentuk Fetisisme Perempuan Kelas Menengah

Fetisisme adalah ketergantungan seseorang pada suatu objek, di mana orang yang bersangkutan merasa dalam kondisi kepenuhan.

Fetisisme jilbab berasal dari persinggungan kelas menengah dengan agama. Masyarakat kelas menengah, dengan sistem kapitalismenya, menjadikan jilbab sebagai commodity fetishism.

Hal tersebut menjadikan jilbab memiliki nilai gengsi (prestise) yang tak ada di masa sebelumnya—di mana sebetulnya tak ada kaitannya langsung dengan agama (profane).

Jean Baudrillard, seorang pengkaji budaya pop asal Prancis, mengungkapkan bahwa realitas merupakan bahasa simbol yang dikonstruksikan melalui satu sistem nilai tertentu.

Hal tersebut menjadikan dunia keseharian tak lagi menjadi sesuatu yang bernilai, melainkan simulasi. Melalui penggunaan simbol tertentu sistem nilai (value) hadir dan memberikan identitas pada pemakainya.

Jilbab sebagai sistem simbol membangun komunitas jilbabers kelas menengah berdasarkan komodifikasi tanda jilbab yang ada di dalam pasar (market).

Mereka membangun kecintaan berlebihan pada simbol jilbab melalui ekspresi budaya fashion dengan gaya jilbab yang modis dan gaul.

Di kalangan kelas menengah ini, kapitalisme pasar melakukan denaturalisasi dari jilbab, yang secara historis merupakan produk kebudayaan menjadi jilbab yang berubah menjadi simbol yang membangkitkan hasrat pasar (konsumtifisme).

Mereka memanfaatkan narasi sejarah jilbab atau pembungkus tubuh, selubung kain yang membungkus isteri-isteri nabi Muhammad.

Tujuannya, untuk menciptakan image ‘kesucian’. Dengan menempatkan narasi tersebut para perempuan kelas menengah modern diajak untuk berfantasi bahwa mereka akan menjadi suci, seperti para perempuan di sekeliling nabi.

Proses denaturalisasi ini melupakan konteks budaya dari kehadiran jilbab di jazirah Arab yang merupakan hasil dari perjalanan panjang kebudayaan Yunani, Romawi dan Persia, di mana dahulu biasa dipakai oleh para bangsawan untuk untuk membedakan diri mereka dengan para budak.

Hari ini, jilbab dikonstruksikan sedemikian rupa agar para jilbabers berhasrat pada jilbab.

Melalui jilbab, kelas menengah diajak untuk masuk ke dalam idealitas sebagai sosok yang ‘suci’, sehingga bagi masyarakat sekitar, mereka akan tampak lebih terhormat.

Kehidupan kelas menengah yang penuh dengan konflik nilai, moralitas dan norma, menyebabkan jilbab menjadi media yang menjadikan mereka seolah dapat cuci-tangan dari segala problematika kehidupan.

Jilbab secara ekstrim telah menjadi satu-satunya ukuran keislaman seorang perempuan.

Pada titik inilah kemudian fundamentalisme pasar bertepuk dengan fundamentalisme keagamaan, logika pasar berjalinan dengan fanatisme keislaman.

Jean Baudrillard secara umum melihat bahwa dalam struktur masyarakat kapitalisme sistem nilai tanda (sign value) lebih penting daripada sistem nilai tukar (the exchange value).

Bahwa pada akhirnya, ketika kapitalisme berhasil mengkooptasi jilbab, pesan dan nuansa keagamaan bukan lagi yang pokok.

Di Indonesia dewasa ini gerakan fundamentalisme keagamaan menyuntikkan hasrat berjilbab melalui mekanisme bahasa.

Mereka memanfaatkan ghirah keislaman yang mewabah di kalangan perempuan kelas menengah dengan bahasa yang seduktif: “Kamu cantik, loh memakai jilbab” atau “Kecantikanmu akan muncul, jika kamu memakai jilbab.”

Bahasa-bahasa seduktif—atau “’interpelasi’ dalam istilah Althusser—digunakan untuk memanggil para perempuan muslim memakai gaya fashion tersebut.

Di sinilah kemudian terjadi persinggungan kapitalisme dan fundamentalisme keislaman memaksakan satu-satunya ukuran kecantikan, kebaikan, dan kesucian, dengan simbol jilbab.

Permasalahan muncul saat penggunaan jilbab menjadi alasan untuk me-liyan-kan mereka yang tidak memakai jilbab atau perempuan-perempuan yang berpenampilan sekuler.

Proses me-liyan-kan tersebut identik dengan nuansa ‘pemaksaan’, baik di bawah meja—seperti kasak-kusuk, fitnah dan pembunuhan karakter—dan yang di atas meja—semisal aturan tertulis dari institusi, baik sekolah, kantor pemerintah maupun perusahaan swasta.

Para jilbabers melupakan esensi jilbab sebagai bagian dari pemahaman keimanan Islam dengan mereduksinya sebagai bagian produk budaya popular semata.

Bertentangan dengan Empat Pilar Kebangsaan

Keterbatasan pemahaman keagamaan membuat mereka tak sadar bahwa mereka sesungguhnya dimanfaatkan gerakan radikal keagamaan tertentu.

Ini untuk membentuk suatu mekanisme struktur jaringan yang bertentangan dengan semangat empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD ’45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Seandainya disimak fenomena antusiasme para perempuan berjilbab, khususnya apa yang kita kenal sebagai ‘laskar emak-emak’, yang baru muncul menjelang dan sesudah peristiwa Pilkada Jakarta.

Di sini para jilbabers seperti menjadi kekuatan politik-keagamaan baru, meski kita bisa melihat berbagai gelombang histeria dan neurosis obsesional di dalamnya.

Memang, tak semua perempuan pengguna jilbab memiliki pemahaman dan karakter yang sama.

Tapi, sejak Pilkada Jakarta 2017 sampai Pilpres 2019, kebanggaan dan penonjolan diri sebagai perempuan berjilbab (politik identitas), identik dengan kubu Islam sektarian, yang menjadi basis massa Anies Sandi (Pilkada Jakarta) dan Prabowo-Sandi (Pilpres 2019).

“Kita tak pernah menyaksikan tingkah-polah yang sama pada kubu kebangsaan. Seperti ada ciri khusus, pola interaksi yang berbeda di antara keduanya,” tulis keduanya.

Melihat sepak-terjang kalangan jilbabers yang memilih Islam politik sebagai satu-satunya cara berislam tersebut, tampak jelas bahwa mereka adalah bagian dari fenomena ‘populisme kanan’.

Dengan demikian maka kesungguhan iman dan wawasan keagamaan dikalahkan oleh hasrat, atribut dan identitas belaka (fetisisme).

Mereka tenggelam dalam euforia pemahaman bahwa kecantikan sejati dalam beragama tak harus terletak pada akhlak dan kedalaman ilmu, tapi semata atribut dan identitas.

Sebagaimana Buya Hamka pernah berkata: “Kecantikan abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.”

Demikianlah para jilbabers harus mulai merenungkan kembali, apakah simbol kayakinan beragamanya hanya semata terbatas pada jilbab atau lebih dalam lagi: akhlak!

Arab Saudi pun Berubah Total

Jangankan ‘hanya’ jilbab. Di Kerajaan Arab Saudi, pemerintahnya bahkan sudah mengizinkan wanita termasuk warga negaranya untuk mengenakan bikini, kendati hannya di wilayah tertentu.

Dinamakan Pantai Murni i (Pure Beach), ini adalah pantai privat, yang terletak di King Abdullah Economic City, sekitar 125 kilometer dari kota internasional Jeddah.

Pantai ini memiliki taman terapung yang membentuk tulisan ‘Arab Saudi’ dalam bahasa Inggris, jika dilihat dari atas.

Untuk masuk ke sini, tiap orang harus mengeluarkan kocek 300 riyal Saudi atau sekitar Rp 1,1 juta (asumsi Rp 3,772/riyal), untuk menikmati musik dan tarian sekaligus bermain air.

Salah satu warga Arab Saudi, Asma (32) menghabiskan waktu satu hari di pantai tersebut dengan pacarnya.

Dia bahkan bisa berdansa dengan pasangannya di atas pasir putih di tepi Laut Merah, diiringi dentuman musik dari pengeras suara.
“Saya senang bahwa saya sekarang bisa datang ke pantai terdekat, untuk menikmati waktu saya. Ini adalah lambang kesenangan … ” katanya.

“…itu adalah impian kami untuk datang ke sini dan menghabiskan akhir pekan yang indah,” lanjutnya kepada AFP, mengenakan gaun biru di atas pakaian renangnya.

“Hidup itu normal (di Arab Saudi),” tambah Asma. “Sebelumnya tidak normal.”

Terlihat juga pengunjung pantai berenang di perairan pirus, di mana para wanita mengenakan bikini. Beberapa di antaranya merokok shisha.

Saat matahari terbenam, para pemain menari mengikuti musik Barat di atas panggung, dengan para pasangan berpelukan di dekatnya.

Sebenarnya ini bukan kebijakan mengejutkan pertama. Sejak 2019, Saudi mengeluarkan aturan bagi pasangan yang belum menikah, diizinkan untuk berbagi kamar saat berlibur di negara tersebut.

“Komisi Saudi untuk Pariwisata dan Warisan Nasional baru-baru ini menyetujui peraturan baru akomodasi pariwisata,” kata seorang juru bicara kepada CNN International, membenarkan sebuah laporan oleh surat kabar Saudi Okaz kala itu.

Peraturan ini dibuat untuk menarik 100 juta pengunjung tahunan, baik internasional dan domestik pada 2030 mendatang.

Saat ini, Saudi juga diketahui sedang membangun resor-resor, dan juga memperbaiki situs-situs bersejarahnya.
Tahun sebelumnya, 2018, negeri Raja Salman itu juga memberikan izin bagi bioskop untuk berdiri dan beroperasi di negara itu. Hal ini dilakukan setelah 35 tahun kebijakan itu tidak diberlakukan.

Dalam penayangan perdana, film Black Panther misalnya, ditayangkan dalam sebuah bioskop di mana pria dan wanita duduk bersama dengan bebas. Selain bioskop, negara itu juga mengizinkan penyelenggaraan konser.

Akibat pembukaan keran itu, banyak artis internasional yang manggung di negara kaya minyak itu. Bahkan, boyband Korea BTS sempat tampil di negara itu pada 2019 lalu.

Pada 2017, Arab Saudi juga mengizinkan perempuan untuk mengemudi dan mendapatkan surat izin mengemudi.

Dan, hal ini tidak perlu dilakukan dengan pendampingan atau izin dari pendamping pria atau muhrimnya.

Negara ini mengalami perubahan di bawah putra mahkota dan penguasa de facto, Mohammed bin Salman (MBS), yang berkuasa pada 2017, di mana dia kemudian sibuk mendiversifikasi sumber pendapatan negara.

Negeri itu, tengah fokus membangun pariwisata untuk mencapai target menjadi salah satu pilar ekonomi di masa yang akan datang. Pariwisata akan menjadi penyokong PDB kedua setelah minyak.

Kocek 500 miliar dolar AS lebih, digelontorkan untuk proyek-proyek besar. Seperti pengembangan Laut Merah, Qiddiya, Diriyah, AlUla dan Neom, yang akan merevolusi pariwisata kerajaan kepada khalayak nasional dan internasional.

Reformasi pun dirancang untuk membuka diri terhadap dunia, termasuk aturan untuk mengakomodasi investasi di sektor pariwisata.

Terobosan lain adalah e-visa dapat dikeluarkan untuk pelancong hanya dalam waktu lima menit.

Pengembangan pariwisata yang masif untuk mengembangkan ekonomi Arab Saudi pada 2030, sesuai dengan visi yang dibangun sejak 2016.

Salah satu tujuannya adalah melepas ketergantungan dari jualan minyak Pada kuartal kedua 2021, kontribusi sektor petroleum dan gas mencapai 24,9 persen.

Visi yang dibangun oleh Arab Saudi, yakni masyarakat yang dinamis, ekonomi yang berkembang, dan menunjukkan bangsa yang ambisius kepada dunia.

Tema pertamanya adalah menekankan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan, mempromosikan warisan budaya Arab Saudi, lingkungan yang indah dan sejarah agama melalui pariwisata termasuk penyelenggaraan ibadah Haji atau Umrah.

Tema kedua, untuk mencapai ekonomi yang berkembang, berjanji untuk membangun sistem pendidikan yang komprehensif untuk meningkatkan sektor ekonomi non-energi dengan potensi tak terbatas dan mendiversifikasi ekonomi Kerajaan dengan berbagai alat investasi.

Tema ketiga berfokus pada progresivitas pemerintah Arab Saudi dengan meningkatkan porsi pendapatan nonmigas dan meningkatkan efektivitas pemerintah secara keseluruhan.

Visi 2030 adalah reformasi sosial politik dan ekonomi nasional untuk mengurangi ketergantungan Arab Saudi pada minyak mentah.

Rencana reformasi ekonomi besar-besaran Arab Saudi juga bisa dibilang sebagai langkah antisipasi dari perkembangan energi dunia.

(Redaksi)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button