Ulul Amri

Kisah Ashabul Kahfi: Orang-Orang Yang Menghindari Intrik Istana

Salafusshalih.com – Kisah ashabul kahfi diceritakan dalam Al-Quran surah ke 18 Al-Kahfi dalam ayat 9-26.

Surah Al-Kahfi salah satunya bercerita tentang sekelompok pemuda yang lari dari istana untuk menghindari intrik dan pemujaan kepada rajanya. Para pemuda ini penganut paham tauhid.

Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, tujuh pemuda ini adalah bangsawan yang menjadi pejabat di zaman Gubernur Daqyanus di negeri Yordania. Di masa itu Yordania masuk kekuasaan Kaisar Rumawi Gaius Messius Quintus Decius. Sekitar tahun 249-251 M.

Merujuk sumber Barat nama tujuh pemuda penghuni gua itu adalah Maximianus, Malchus, Martinianus, Constantinus, Dionysius, Johannes, dan Serapion.

Dalam kitab Qishashul Anbiya karya Ibnu Katsir diceritakan dengan lengkap kisah ini. Versi Ibnu Katsir nama pemuda ini adalah Tamlikha, Miksalmina, Mikhaslimina, Martelius, Casitius, dan Sidemius.

Kisah ashabul kahfi versi Ibnu Katsir ini berdasarkan penuturan Ali bin Abi Thalib yang menjawab pertanyaan orang Yahudi saat bertamu kepada Khalifah Umar bin Khattab.

Berikut ringkasan kisah ashabul kahfi dalam kitab ini. Peristiwa ini terjadi di negeri Rum. Di sebuah kota bernama Aphesus (Efesus). Disebut juga dengan nama Tharsus, daerah Turki sekarang.

Negeri itu punya raja yang baik. Setelah wafat, negerinya diserang raja Persia, Diqyanius, yang zalim.

Raja ini mempunyai pejabat istana bernama Tamlikha, Miksalmina, Mikhaslimina, Martelius, Casitius, dan Sidemius.

Raja ini berkuasa selama tiga puluh tahun. Sehat kuat dan sehat sehingga sombong dan zalim. Ia mengaku diri sebagai tuhan yang paling berkuasa. Orang yang taat kepadanya diberi hadiah dan yang menyangkal ditindas.

Enam orang pejabat istana ini tak menyukai sikap raja yang zalim itu. Dalam perbincangan antara mereka, Tamlikha berkata, sudah lama dia memikirkan soal langit. ”Aku bertanya pada diriku, siapakah yang mengangkat langit sebagai atap tanpa gantungan dan tiang penopang?” katanya.

”Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit dengan bintang-bintang bertaburan?”

”Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku?”

Teman-temannya juga sepemikiran yang sama sehingga menyimpulkan ada Tuhan Yang Mahakuasa di balik alam semesta ini. Tuhan itu bukanlah raja yang manusia. Untuk menghindari pertentangan pendapat dan paham dengan raja dan pejabat lainnya, Tamlikha dan kawan-kawannya sepakat meninggalkan istana.

Setelah berkuda tiga mil jauhnya, mereka tiba di suatu desa.  Bertemu dengan seorang penggembala dan anjing warna kehitaman bernam Qithmir. ”Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?” tanya Tamlikha.

”Aku mempunyai yang kalian inginkan,” sahut penggembala itu. ”Kulihat wajah kalian seperti bangsawan. Coba ceritakan kenapa kalian meninggalkan istana.”

Tamlikha menceritakan paham tauhid yang dianutnya berbeda dengan paham kerajaan. Mendengar cerita mereka, penggembala itu tertarik. Ia berkata, hatinya sama dengan pemikiran mereka.

Penggembala mengajak mereka naik ke bukit Naglus. Menunjukkan sebuah gua bernama Kheram untuk tempat istirahat dan sembunyi.

Malam tiba, mereka masuk ke dalam gua. Juga penggembala itu untuk berdiskusi tentang agama. Anjingnya berjaga di pintu gua.

Malam makin larut, merekapun tidur sangat pulas. Saking pulasnya mereka tak terbangun hingga esok hari.

Peristiwa itupun berlalu hingga berlangsung 309 tahun lamanya. Sampai suatu ketika tujuh orang dalam gua itu bangun tidur. Mereka merasa baru sehari berdiam dalam gua itu.

Mereka lapar. Lalu Tamlikha berkata kepada penggembala untuk bertukar baju. Setelah itu turun menuju desa. Tapi dia heran kondisi jalan dan desa yang pernah dilewati sudah berubah.

Setibanya di pasar ia bertanya kepada tukang roti. ”Hai tukang roti, apakah nama kota ini?”

”Aphesus,” jawab tukang roti.

”Siapa nama raja kalian?” tanya Tamlikha.

”Abdurrahman,” jawab tukang roti

Tamlikha terkejut. Kemudian dia menyodorkan uang untuk membeli roti. Tukang roti heran melihat uang kuno. ”Alangkah beruntungnya aku. Rupanya engkau menemukan harta karun.”

”Aku tidak menemukan harta karun,” kata Tamlikha. ”Uang ini kudapat tiga hari lalu hasil penjualan kurma tiga dirham.”

Tukang roti minta Tamlikha menyerahkan semua uang zaman Raja Diqyanius yang sudah mati 300 tahun silam. ”Apakah engkau memperolok-olok aku dengan uang harta karun ini?”

Tamlikha ditangkap. Dibawa menghadap raja. Raja bertanya bagaimana cerita orang ini.

”Dia menemukan harta karun,” jawab orang-orang yang membawa Tamlikha.

Raja berkata,”Engkau tak perlu takut. Nabi Isa as memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat.”

Tamlikha menjawab,”Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun. Aku penduduk kota ini.”

”Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi.

Tamlikha menyebutkan sejumlah nama-nama pejabat istana. Tapi tak satu nama itu dikenal.

Ada yang mengatakan, itu nama orang-orang masa lampau.

”Apakah engkau mempunyai rumah?”
”Ya,” jawab Tamlikha. Dia dia meminta beberapa orang menyertainya pergi ke rumahnya.

Setibanya di sana, Tamlikha berkata,”Inilah rumahku.”

Pintu rumah diketuk. Seorang lelaki tua keluar. Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut,”Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya.”

Orang tua itu memandangi Tamlikha. ”Siapa namamu?”

”Aku Tamlikha anak Filistin.”

Orang tua itu kaget lalu terduduk. ”Ini adalah datukku. Demi Allah, ia yang meninggalkan istana Diqyanius, raja durhaka.”

Peristiwa dilaporkan kepada raja. Maka hebohlah kota tentang kebangkitan Tamlikha setelah lewat 300 tahun.

”Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?” tanya orang-orang.
Tamlikha memberi tahu semua temannya masih dalam gua.
Orang-orangpun beramai-ramai menuju gua. Tamlikha naik menemui teman-temannya yang kegirangan melihatnya masih selamat.

”Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius.”
”Tak ada urusan dengan Diqyanius. Tahukah kalian, sudah berapa lamakalian tinggal di sini?”
”Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,” jawab mereka.
”Tidak,” ujar Tamlikha. ”Kalian di sini selama 309 tahun. Diqyanius sudah lama meninggal dunia. Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian.”

Ternyata Allah berkehendak lain. Tamlikha dan teman-temannya diwafatkan lagi dalam gua.

Orang-orangpun makin beriman kepada Allah tentang hari kebangkitan sesudah mati. Peristiwa inipun makin populer sebagai kisah ashabul kahfi. Tujuh orang bersama seekor anjing yang tidur selamanya dalam gua.

(Sugeng Purwanto)

Related Articles

Back to top button