Menelisik Pandangan Ustadz Hanan Attaki Tentang Negara Islam

Salafusshalih.com – Kabar terbaru dari ustaz seleb Hanan Attaki, sempat membuat ramai media sosial karena berbagai penolakan yang dialaminya ketika berdakwah.
Pada 30 Juli 2022 silam, ia mendapatkan penolakan ketika akan berceramah dalam Konser Langit di Masjid Agung Maulana Malik Ibrahim Gresik.
Penolakan kedua terjadi di Jember pada 29 Juli 2022 di GOR PKSPO. Ia ditolak karena menurut Wabup Jember Muhammad Balya Firjaun Berlaman sosok Hanan Attaki belum banyak dikenal warga.
Setelah di Jember, ia juga ditolak di Sidoarjo karena acara tersebut tidak mengantongi izin. Selain itu, ada beberapa pihak yang keberatan apabila Hanan Attaki menyampaikan ceramah di Sidoarjo.
Di Pamekasan, ketika mengadakan kegiatan yang bertajuk sharing session, justru mendapatkan respon kurang baik dari masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Muttaqin, Desa Laden, Kecamatan Kota Pamekasan, pada Minggu malam (12/02/23) beberapa waktu lalu ditolak keras oleh Nahdliyin.
Ketua PCNU Pamekasan, Kiai Taufik Hasyim juga secara tegas menolak keadatangan pendakwah kondang ini karena substansi ceramah yang disampaikan bertentangan dengan nilai-nilai persatuan dan kesatuan.
Penolakan yang diterima oleh Hanan Attaki, nyatanya berbanding terbalik dengan penerimaan sejumlah anak media melaui akun media sosialnya.
Pada saat penolakan dilakukan, justru banyak unggahan akun-akun media sosial anak muda yang menyampaikan rasa senang dan haru karena sudah bertemu dengan ustaz idamannya itu.
Sosok Hanan Attaki adalah toko yang digandrungi anak muda. Ceramahnya yang santai dan kekinian. Gerakan hijrah yang dilakukan, memberi ruang bagi mereka untuk berekspresi dan menempa diri di tengah pencarian identitas sebagai seorang muslim.
Gerakan yang dinamakan Shift, adalah sebuah wadah yang sangat relate dengan permasalahan anak muda karena terdiri dari berbagai latar belakang anak muda.
Mereka dari kelompok genk motor, hingga komunitas yang tidak ada kaitannya dengan organisasi keislaman. Upaya merangkul semua golongan anak muda, menjadi misi besar yang dilakukan dalam setiap dakwahnya.
Jawaban Hanan Attaki tentang Khilafah
Penolakan Hanan Attaki oleh sejumlah tokoh di berbagai wilayah Jawa Timur, tidak lepas dari track record perjalan dakwah yang dilakukan.
Hanan Attaki dikenal sebagai tokoh HTI. Organisasi yang dilarang oleh pemerintah sejak tahun 2017 silam, menyisakan kenangan yang buruk bagi perjalanan bangsa Indonesia.
Meskipun organisasi HTI dilarang secara kelembagaan, namun gerakan HTI masih massif. Mereka melakukan dakwah secara terang-terangan untuk mengkampanyekan khilafah.
Sosok Hanan Attaki dikenal sebagai aktivis khilafah. Meskipun demikian, Hanan Attaki selalu memberikan penjelasan bahwa dirinya bukanlah aktivis khilafah, hanya simpatisan HTI di masa silam.
Bahkan, dalam chanel youtubenya, ia membuat sebuah video dengan durasi 25 menit berkenaan pandangannya tentang khilafah.
Melalui video tersebut, Hanan Attaki secara jelas tidak setuju dengan pemaknaan khilafah yang merujuk pada sistem negara Islam.
Hanan Attaki jelas-jelas merujuk pandangan ulama ahlus sunnah wal jamaah terkait negara dengan agama.
Menurutnya, sikap moderat memahami teks alquran tentang khilafah, kemudian dikolaborasikan dengan akal, menjadikan sikap yang bijaksana.
Keberadaan Pancasila, yang merupakan hasil ijtihad pada ulama terdahulu, menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kokoh dalam persatuan dan kesatuan.
Bagi Hanan Attaki, khilafah menurut pandangannya tidak hanya sebatas tentang sistem negara Islam.
Namun, khilafah bisa dimaknai sebagai upaya memakmurkan. Dalam contoh sederhana yang disampaikan adalah metode dakwah yang dilakukan.
Ia mencoba untuk melakukan sedekah sampah, sebagai salah satu upaya untuk memakmurkan bumi. Ia juga berupaya untuk mengumpulkan anak muda dari berbagai kalangan, sebagai upaya untuk mengeratkan persatuan dan kesatuan NKRI.
Nilai-nilai itu yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam dakwah yang dilakukan. Secara tegas, Hanan Attaki menolak kelompok yang berupaya untuk mengkampanyekan khilafah di Indonesia. Karena itu menjadi faktor perusak NKRI.
Pandangan Hanan Attaqi ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Amiruddin bahwa setidaknya ada 3 aliran politik Islam, di antaranya: Pertama, kelompok integralisme menganggap bahwa agama dan negara dianggap satu dan tidak dapat dipisahkan.
Artinya, misi negara adalah mendukung agama sehingga tujuan umat muslim dalam mendirikan khilafah bisa terwujud. Oleh karena itu, semua umat muslim harus mematuhi negara dan hukum Islam.
Kedua, kelompok interseksionalisme menganggap bahwa agama dan negara adalah simbiosis mutualisme atau saling ketergantungan.
Agama mengharuskan negara perlu menegakkan aturan syariah. Meskipun agama membutuhkan bangsa untuk memperoleh legitimasi, para pemikir ini menunjukkan ideologi politik yang sederhana dengan tanpa melupakan peran penting negara bagi bagi agama.
Ketiga, kelompok sekularisme menganggap bahwa negara dan agama harus dipisahkan. Kelompok ini mengklaim bahwa Nabi Muhammad saw. tidak perang memerintahkan pembentukan negara. Pembentukan negara Islam pada awalnya merupakan faktor alam dan sejarah dalam hidup bermasyarakat.
Klarifikasi Hanan Attaqi terkait pandangannya soal khilafah, sebenarnya cukup ambigu bagi para pecintanya.
Di satu sisi, circle pendakwah yang dimiliki oleh Hanan Attaqi adalah orang-orang HTI seperti Felix Siauw yang jelas-jelas anti NKRI, dan beberapa ustaz seleb lainnya.
Penyampaian Hanan Attaqi terkait penolakannya terhadap gerakan khilafah, bisa kita jadikan upaya khusnudzon bahwa pendakwah satu ini benar-benar mencintai NKRI.
(Muallifah)



