Ulul Amri

Prof. Mujiburrahman: Islam, Musik, dan Politik

Salafusshalih.com – “Sesungguhnya Allah Maha Indah, dan menyukai keindahan,” kata hadis Nabi SAW. Musik, sebagaimana parfum, adalah keindahan tanpa bentuk. Alam semesta dan manusia, adalah keindahan yang berbentuk. Bagi kaum Sufi, baik keindahan yang berbentuk ataupun keindahan tanpa bentuk, semuanya adalah penampakan sifat-sifat Allah yang Maha Indah.

Di dalam risalah Kimia Kebahagiaan, al-Ghazali menulis: “Hati manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa bagaikan sebuah batu api. Ia mengandung api tersembunyi yang terpijar oleh musik dan harmoni serta menawarkan ketenteraman baginya dan orang lain.

Harmoni ini adalah gema dari keindahan dunia yang lebih tinggi, yang kita sebut dunia ruh. Ia mengingatkan bahwa manusia terhubung dengan dunia itu, dan membangkitkan emosi yang sedemikian asing dalam dirinya sehingga ia sendiri tak kuasa menjelaskannya.”

Karena itu, musik adalah salah satu sarana yang dapat membangkitkan kesadaran spiritual manusia. Musik dapat membangunkan cinta yang tertidur. Musik adalah suara atau bunyi yang indah. Suara yang indah melantunkan ayat-ayat suci Alqur’an ataupun puji-pujian kepada Nabi, adalah sebentuk musik yang berdimensi spiritual.

Keindahannya membawa manusia ke ‘dunia ruh’, yang sulit ditembus jika manusia hanya menggunakan nalar-rasional belaka.Di sisi lain, bagi kaum Sufi, segala keindahan tidak hanya menjadi pintu masuk ke dunia ruhani, melainkan juga bisa menjadi dinding (hijāb).

Ketika seseorang menyaksikan matahari tenggelam di kaki langit, diiringi deburan ombak dan burung-burung camar yang beterbangan, dia mungkin akan terpesona dan kagum pada keindahan alam itu. Namun, dia juga bisa lupa bahwa semua keindahan itu takkan pernah ada tanpa Dia Yang Maha Indah, yang menciptakannya. Inilah hijab itu!

Begitu pula dengan musik. Menurut al-Ghazali, dari sudut pandang ruhani, musik itu baik dan bermanfaat jika dapat mendekatkan manusia kepada Allah, yakni dapat membangkitkan kesadaran moral dan spiritualnya. Namun musik itu haram jika ia membangkitkan hawa nafsu dan kemaksiatan.

Di antara keduanya, musik bersifat boleh (mubâh) alias netral. Artinya, musik boleh dinikmati sebagai hiburan semata jika ia tidak mendorong kepada maksiat, dan tidak pula kepada taat.

Sudah maklum, musik nyaris identik dengan dunia hiburan. Hidup manusia tidak selalu lurus-mulus, melainkan berlika-liku. Tak jarang, hidup begitu keras dan beban sangat berat. Bahkan orang yang disebut sukses kadangkala justru orang yang juga stres.

Dalam keadaan yang demikian, dia perlu rehat dan santai. Dia perlu hiburan yang dapat melemaskan segala ketegangan. Untuk itu, musik adalah salah satu sarana yang tersedia. Ia dapat menghibur diri dengan menikmati musik.

Istirahat setelah bekerja, hiburan setelah kesibukan, merupakan suatu kewajaran. Masalah muncul ketika manusia berlebihan, melampaui batas, sehingga dia lupa daratan dan lautan. Mereka bekerja habis-habisan, lalu hiburan juga habis-habisan.

Bermusik, berdisko ria hingga semalam suntuk. Lebih buruk lagi, mereka sambil mabuk-mabukan, bahkan ada yang sampai mengonsumsi narkoba. Musik yang indah akhirnya berubah menjadi destruktif, menghancurkan hidup manusia.

Agar tidak melampaui batas, maka perlu ada kontrol dan disiplin diri. Agama membuat garis-garis, batasan-batasan, agar manusia tidak berlebihan. Mana yang boleh, mana yang tidak. Mana yang bermanfaat, mana yang mudarat.

Agama pada dasarnya tidak main pukul rata, hitam-putih. Semua boleh atau semua dilarang. Agama adalah pentunjuk bagi manusia, sementara hidup manusia itu penuh nuansa dan kompleks. Jika agama bersifat hitam-putih, maka ia akan sangat sulit diamalkan.

Lantas, mengapa ada tokoh agama yang main mutlak-mutlakan, hitam-putih, bahkan mengkafirkan orang lain yang berbeda pendapat tentang musik? Mungkin dia melihat musik dari sisi mudaratnya saja. Mungkin pula mengharamkan musik secara mutlak itu terasa tegas dan mantap di tengah dunia yang penuh keraguan. Mungkin pula ia ingin menegakkan otoritas moral keagamaan yang kini terasa goyah dan rapuh. Mungkin pula sekadar ingin menegaskan bahwa “kami berbeda dengan kalian”.

Saya jadi teringat Prof. Asef Bayat. Pada 2007 silam, dia menulis artikel berjudul “Islamism and the Politics of Fun” di jurnal Public Culture. Bayat melihat masalah hiburan, termasuk musik, dari sisi politik, yakni pertarungan kuasa antara yang mengontrol (negara, lembaga atau tokoh agama) dan yang dikontrol (masyarakat, khususnya generasi muda). Inilah sebabnya, katanya, negara otoriter, berdasarkan agama ataupun sekuler, cenderung tidak toleran pada hiburan, termasuk musik.

Kini hidup manusia diserbu tsunami informasi dari segala penjuru, dan kuasa lembaga-lembaga agama serta tokoh-tokoh agama bahkan negara tidak hanya saling bersaing melainkan juga ditantang oleh pandangan-pandangan sekuler yang berseberangan.

Manakah sudut pandang yang lebih diterima umat? Yang keras hitam-putih, ataukah yang moderat dan bernuansa? Orang tentu bebas memilih mana yang cocok baginya. Yang penting, jangan merasa telah mengkaveling surga!

(Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A.)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button