Al Qur'an

Setan Masjid

Salafusshalih.com – Masjid konon tempat paling aman setelah pelukan ibu dan pangkuan kiai kampung yang selalu menepuk bahu sambil berkata, “Ndak apa-apa, Nak, hidup memang penuh ujian.” Namun entah setan dari mana, ada warga bikin masjid mirip tempat syuting film laga kelas menengah—yang pemainnya bukan bintang, tapi warga sekitar.

Dan kita pun terhenyak: bagaimana bisa di rumah Allah, orang diperlakukan bukan seperti tamu, tapi seperti karung beras yang jatuh dari truk? Akhir pekan ini, kita menatap kenyataan paling pahit dari peristiwa yang mengguncang itu: seorang pemuda bernama Arjuna Tamaraya tewas di area masjid akibat tendangan maut.

Perantau 21 tahun yang sekadar ingin memejamkan mata di Masjid Agung Sibolga, Sumatera Utara, itu, pada Jumat jelang Subuh, menjadi korban pengeroyokan brutal oleh lima orang yang merasa terganggu oleh keberadaannya. Ia ditendang, dipukuli, diseret keluar, kepalanya terbentur anak tangga, bahkan dilempar buah kelapa.

Semua perlakuan itu tak pernah diajarkan oleh agama mana pun, apalagi dilakukan di tempat paling suci di muka bumi. Rekaman CCTV menyaksikan semuanya—lebih jujur dari hati para pelaku—sementara Arjuna sendiri tak pernah sempat bangun kembali dari tidur yang tak pernah ia minta untuk menjadi tidur terakhirnya.

Tragedi Arjuna Tamaraya di Masjid Agung Sibolga membuat kita bertanya dengan dahi mengernyit setinggi menara masjid: khotbah macam apa lagi sebenarnya yang dibutuhkan jemaah? Apakah khotbah Jumat selama ini tak pernah menyentuh hal paling dasar dari agama mana pun, bahwa nyawa manusia itu bukan barang obralan?

Padahal ayatnya jelas, terang benderang, lantang tanpa pengeras suara: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (Al-Ma’idah: 32)

Sebuah kalimat yang kalau ditulis di spanduk, bisa bikin para pelaku penganiayaan itu merunduk seperti sandal jepit ketinggalan wudu. Pada 2016, laman Facebook resmi UC Berkeley, AS, memposting foto plakat dengan kutipan ayat ini: “Whoever kills an innocent person, it is as if he has killed all of humanity.”

Atas peristiwa di Sibolga tadi, kita pun jadi bingung: apakah khotbah-khotbah kita terlalu ilmiah sampai jemaah ketiduran sebelum sampai pada pesan utamanya? Atau sebaliknya, terlalu dangkal hingga nilai-nilai kemanusiaan tenggelam di antara contoh-contoh copy-paste dari grup WhatsApp?

Seberapa sering khotbah bicara tentang akhlak dasar yang membentuk manusia, bukan sekadar larangan-larangan yang membuat dahi kita semakin berlipat seperti sajadah bekas sujud panjang.

Arjuna hanya ingin tidur. Iya, tidur. Sesuatu yang bahkan kucing pun tidak pernah dianiaya gara-gara melakukannya. Boleh jadi ia tak punya saudara tempat berteduh. Atau ia dalam perjalanan fisabilillah. Tapi di masjid, pada dini hari, Arjuna justru diperlakukan seperti penjahat kelas kakap yang melanggar titah kerajaan.

Tentu, ada adab di masjid. Tentu, ada aturan. Tak boleh tiduran, apalagi tidur. Tapi adab tak pernah mengajarkan tendangan ke kepala, dan aturan tak pernah menyuruh menginjak manusia, apalagi melemparkan kelapa seperti sedang latihan olahraga tradisional tingkat desa.

Pertanyaannya kemudian memelintir hati kita: seberapa jauh dakwah masjid menjangkau warga sekitar, dari mana—kata polisi—para penganiaya berasal? Apakah para khatib, yang sering kali didatangkan dari luar lingkungan, memahami medan dakwah tempat mereka berdiri?

Atau jangan-jangan mereka hanya datang, berkhotbah seperti membaca pengumuman, lalu pulang dengan baju gamis dan sorban rapi, meninggalkan jemaah yang tetap bingung menghadapi masalah-masalah sosial yang lebih rumit dari penjelasan fikih waktu asar?

Masjid Pusat Peradaban

Ini bukan sekadar soal retorika. Masjid adalah pusat moral sosial, bahkan pusat peradaban. Ia bukan hanya ruang ibadah, tetapi ruang didik kemanusiaan. Kalau masjid tak mampu menjinakkan amarah warganya, lantas apa makna deretan panjang kajian, tabligh akbar, dan ceramah subuh?

Kalau orang bisa meninggal dipukuli atas urusan sepele di sana, apakah yang selama ini kita bangun adalah rumah ibadah atau benteng emosi tak tersalurkan?

Di luar sana, negara-negara lain bahkan sedang sibuk memikirkan bagaimana rumah ibadah bisa menjadi pusat rehabilitasi sosial, pusat dialog lintas iman, pusat konseling keluarga.

Kita? Masjid kita kadang masih sibuk memutuskan siapa boleh tidur, siapa tidak; mungkin juga siapa boleh duduk di saf terdepan, siapa harus minggir. Dramanya mengalahkan parlemen, minus fasilitas AC dan honor rapat.

Baca Juga:  Balita Lebih Percaya Musik daripada Wajah Ibunya

Ironisnya, tragedi Arjuna justru memberi kita cermin paling jernih: bahwa yang rusak bukan masjidnya, tapi manusia yang menghuninya. Dan bahwa dakwah bukan tentang panjang-pendek khutbah, tetapi sejauh mana pesan itu mengubah perilaku.

Dan bahwa seorang pendatang tak dikenal tetaplah saudara seiman dalam kemanusiaan yang wajib diperlakukan dengan hormat—bukan dengan sepakan, bukan dengan teriakan, bukan dengan seretan ke tangga yang merenggut nyawanya.

Pada akhirnya, kita belajar dari peristiwa paling pahit ini: bahwa masjid dapat kembali pada peran aslinya bila kita kembalikan kemanusiaan sebagai inti dakwah. Bahwa khotbah yang baik bukan yang panjang, bukan yang puitis, bukan yang bising oleh mikrofon—tetapi yang mampu mencegah tangan orang berbuat semena-mena.

Dan bahwa kehilangan satu nyawa di rumah Allah adalah alarm yang tak boleh kita matikan, betapa pun berisiknya.

Dari tragedi muncul pelajaran. Dari luka hadir kesadaran. Dari satu nyawa yang terampas, kita diingatkan bahwa angka-angka statistik kriminal itu bukan sekadar data; itu adalah manusia yang tak sempat pulang.

Semoga masjid kembali menjadi rumah keselamatan, bukan ruang kemarahan. Semoga dakwah kembali memanusiakan manusia sebelum mengajarinya hukum. Dan semoga kita, para jemaah yang sibuk mengejar pahala, tidak lupa bahwa ibadah pertama adalah menghormati kehidupan.

(Ahmadie Thaha)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button